Standar Pengemasan Kargo Udara dalam Pengiriman Barang
Pelajari standar pengemasan kargo udara: prinsip keselamatan, material packaging, unitisasi (pallet & ULD), blok dan bracing, penandaan & labeling, penanganan barang berbahaya dan sensitif (farmasi, perishables, hewan hidup), SOP pengepakan, checklist inspeksi, pengujian packing, dan rekomendasi praktis agar kiriman aman, sesuai regulasi, dan cost-efficient
Digital Marketing
2/14/20266 min baca
Pendahuluan — mengapa standar pengemasan udara krusial?
Pengemasan adalah garis pertahanan pertama dalam rantai pengiriman udara. Di pesawat, barang mengalami handling berulang, getaran, tekanan udara berbeda, serta berbagai kondisi lingkungan — sehingga pengemasan yang buruk cepat berujung pada kerusakan, klaim, keterlambatan, dan biaya tambahan. Selain itu, maskapai dan regulator mewajibkan aturan packing tertentu agar keselamatan penerbangan tidak terganggu (mis. penanganan bahan berbahaya, stabilitas load, dan deklarasi berat/dimensi) dalam Pengiriman Barang.
1. Prinsip dasar pengemasan kargo udara
Sebelum rincian teknis, pahami prinsip-prinsip dasar ini:
Keselamatan lebih utama — packaging mesti melindungi bukan hanya isinya, tapi juga orang dan aset yang menangani (hand carryers, handler, aircraft).
Unitisasi — gabungkan unit kecil menjadi satu unit yang mudah dipindahkan (pallet/ULD) untuk mengurangi multiple handling.
Stability & restraint — barang harus stabil saat diangkat, dipindahkan, dan di-stow. Gunakan blocking & bracing, strapping, shrink wrap.
Compatibility dengan modalitas & peralatan — ukuran harus sesuai ULD/pallet, dan tidak menghalangi penutupan pintu pesawat atau jalur kargo.
Kepatuhan regulasi — perhatikan aturan airline, regulator, serta persyaratan bahan berbahaya.
Traceability & labeling — setiap unit harus diberi identitas jelas (AWB, no. koli, handling marks).
Economy of packaging — aman namun efisien; overpackaging menambah berat dimensi (mengurangi profitabilitas).
Sustainability & reuse — pilih material yang bisa dipakai ulang bila memungkinkan tanpa mengurangi fungsi proteksi.
2. Jenis material packaging yang direkomendasikan
Pemilihan material bergantung pada jenis barang, nilai, sensitivitas, dan risiko selama transit. Berikut daftar material yang umum dipakai dan peranannya:
Karton bergelombang (corrugated cardboard)
Tipe single-wall untuk barang ringan, double-wall untuk barang berat atau bernilai.
Pastikan grade & bursting strength sesuai.
Kayu & crate (pallet crate / wooden box)
Untuk mesin, spare part besar, atau barang oversized. Harus memenuhi phytosanitary regulation (treatment & ISPM15 jika ekspor antar-negara).
Pallet (wood, plastic, or metal)
Unitisasi pallet memudahkan forklift handling. Pastikan pallet kuat dan standard size memenuhi dimensi ULD/aircraft.
Stretch film & shrink wrap
Untuk menahan beban pada pallet dan mencegah barang terlepas saat handling.
Strapping / banding (steel or polyester)
Amankan muatan terutama pada crate & pallet. Gunakan edge protector agar strap tidak merusak karton.
Blocking & bracing materials (foam, timber battens, dunnage)
Untuk menghindari movement dalam unit.
Cushioning materials (peanuts, foam-in-place, air pillows, bubble wrap)
Menyerap guncangan selama handling & take-off/landing.
Vapour barrier & desiccant (silica gel)
Untuk barang sensitif kelembapan (elektronika, farmasi).
Insulation & refrigerated packaging
Untuk cold chain / perishable: dry ice containers, phase change materials (PCM), insulated boxes. Harus mematuhi aturan DG (dry ice classification) dan dokumentasi.
Tamper-evident seals & security wraps
Untuk mengurangi resiko pembobolan.
Labels & hazard markings
Waterproof labels, reflective where needed, dan handling marks seperti “UP”, “FRAGILE”, “KEEP DRY”.
3. Unitisasi: pallet, ULD, dan cara pengukuran yang benar
3.1 Palletization
Gunakan pallet dengan kapasitas beban sesuai total gross weight.
Atur stacking pattern yang stabil (brick pattern, column stack) tergantung bentuk barang.
Tinggi pallet ideal jangan melebihi guideline maskapai (umumnya 1.6–2.2 m tergantung ULD clearance).
Pastikan load center seimbang agar saat diangkat tidak terjadi tipping.
3.2 ULD (Unit Load Device)
ULD (container/LD pallet) adalah satuan standard untuk kargo udara. Masing-masing ULD punya kapasitas volumetrik dan berat maksimal.
Pastikan ukuran palletized load kompatibel dengan jenis ULD (e.g., PAG/PLA types).
Penempatan dan distribution center of gravity harus diperhatikan: maksudnya, beban tidak boleh terkonsentrasi di satu sisi ULD.
3.3 Cara mengukur dan mendokumentasikan
Ukur dimensi (P×L×T) setiap unit setelah packaging dalam cm. Hitung dimensional weight sesuai formula carrier.
Timbang gross weight per unit di timbangan terkalibrasi; catat tare jika ada.
Label dengan nomor koli (mis. 1/10) dan AWB; sertakan gross weight dan dimensi pada packing list.
4. Blocking & bracing — teknik menahan muatan
Blocking & bracing penting untuk memastikan barang tidak bergerak di dalam unit / ULD.
Blocking: menempatkan elemen keras (timber blocks, hard foam) untuk mengisi void sehingga muatan tidak bergeser.
Bracing: tali, strapping, atau structural members yang menahan muatan di tempatnya.
Shims & dunnage: bahan filler (plastic foam, plywood, inflatable dunnage) untuk menahan muatan di antara sisi unit.
Load distribution: letakkan barang berat di base layer, lebih ringan di atas. Hindari center of gravity tinggi.
Prinsip: ketika unit dikenai akselerasi (braking, turning, atau saat take-off/landing), gaya inersia tidak menghasilkan gerakan yang menyebabkan kerusakan.
5. Penandaan & labeling — apa yang wajib terlihat
Labeling merupakan aspek legal dan operasional. Label harus jelas, tahan air, dan ditempel di posisi yang mudah terlihat.
Informasi minimum pada setiap koli/unit:
Nomor AWB (Air Waybill) lengkap.
Nomor koli (x/y).
Berat bruto (kg) dan dimensi (cm).
Handling marks: FRAGILE, HAZMAT label jika relevan, THIS SIDE UP, KEEP DRY.
Kode penerbangan / destination jika available.
Contact person & phone number shipper/consignee (untuk exception handling).
For DG: proper shipping name, UN number, class, net quantity, emergency contact.
Label harus konsisten dengan data pada AWB dan packing list. Photo evidence of labeling is useful.
6. Barang khusus: panduan singkat per kategori
6.1 Barang berbahaya (Dangerous Goods)
Ikuti ketentuan yang ketat: classification, packing instruction, proper Packaging Group, and documentation (DG declaration).
Gunakan packaging certified untuk DG, dan beri label DG sesuai class.
Beberapa DG (mis. oxidizer, lithium batteries, dry ice) punya aturan khusus untuk udara. Jika ragu, libatkan DG specialist dan jangan kirim tanpa clearance.
6.2 Farmasi & cold chain
Validated insulated boxes + PCM or dry ice sesuai temperature profile (2–8°C, -20°C, dsb).
Temperature loggers recommended; sertakan handling instruction pada label.
Pre-notify handler & airline untuk request reefer/priority handling jika diperlukan.
6.3 Perishable / Food
Insulated packaging, pre-cooling, dan cepat transit.
Pastikan sanitary packaging dan compliance terhadap sanitary/phyto regulations.
6.4 Elektronika & barang sensitif kelembapan
Use vapour barrier & desiccants; sealing untuk mencegah kondensasi.
Cushioning untuk mengurangi shock.
6.5 Spare parts & heavy machinery components
Crating with timber, steel reinforcement, removal of protruding parts, and secure lashing.
ISPM15 treatment for wooden packaging if crossing borders.
6.6 Hewan hidup
Specific crate design, ventilation, feeding/watering instructions, health certificates, dan advance notice. Jangan mengemas tanpa izin dan SOP.
7. Perhitungan dimensi & berat chargeable — tips pengemasan yang hemat biaya
Ingat chargeable weight = max(actual weight, dimensional weight). Untuk mengurangi volumetric charge: manfaatkan compact packing dan minimalkan void space. Namun jangan mengompromikan proteksi.
Pilih packaging yang kuat tapi ringan: mis. corrugated double-wall lebih ringan daripada crate jika cukup.
Unitisasi ulang jika shipper mengemas banyak small boxes: konsolidasi di pallet agar pengukuran lebih efisien.
Contoh strategi: gunakan pallet folding atau collapsible containers yang memberikan rigidity saat muatan, namun dapat disimpan flat saat empty untuk mengurangi biaya repositioning.
8. SOP pengepakan praktis (template singkat)
SOP Pengepakan Kargo Udara — 10 Langkah
Verifikasi order & requirements: periksa AWB, destination, and special handling (DG, cold chain).
Inspect item: catat kondisi barang sebelum packing (foto).
Select packaging: pilih box/crate/material sesuai berat & fragility.
Cushioning & inner protection: pasang foam, bubble wrap, atau moulded support.
Blocking & bracing: tambahkan dunnage untuk mengisi void.
Unitisasi: jika applicable, place items on pallet & secure with strapping & stretch film.
Weigh & measure: timbang gross & ukur dimensi; catat di packing list dan AWB.
Labeling: tempelkan AWB label, handling marks, dan DG labels if needed.
Seal & security: gunakan tamper-evident seal; catat seal number jika ada.
Final check & documentation: foto final, signature packer, simpan logs.
SOP ini dicetak di area packing dan dilatih untuk semua operator.
9. Checklist inspeksi penerimaan kargo (di acceptance/gate)
AWB/HAWB cocok dengan physical koli (jumlah & description).
Labels & marks terpasang dan terlihat.
Gross weight & dimensi tercatat sesuai actual measurement.
Packaging tidak terlihat basah atau rusak.
DG check: periksa DG declaration dan secure packaging.
Cold chain: temperatur box sesuai dan logger dipasang.
Seal number dicatat & foto kondisi.
Packer signature & photo evidence for acceptance.
Catatan: jika terjadi discrepancy (weight, count, damage), buat acceptance note (POD with exception) dan eskalasikan ke shipper.
10. Pengujian packaging & quality assurance
Untuk shipments beresiko tinggi, lakukan testing:
Drop test (simulate handling drop per standard ISTA): pastikan cushioning memadai.
Vibration test: memastikan komponen internal tahan guncangan.
Compression test: untuk pallet stacks agar tidak crush.
Temperature validation: thermal profiling for cold chain packaging.
Leak test: untuk liquid drums/containers.
Buat program sampling QA: 1%–5% shipment diuji secara random untuk memantau kualitas packing.
11. Pelatihan & kompetensi packer
Packer harus terlatih dalam: material selection, blocking & bracing, DG handling basics, proper labeling, measurement & weighing techniques, evidence photography, dan SOP emergency handling. Sertifikasi internal atau training rutin (quarterly) membantu menurunkan klaim.
12. Manajemen klaim dan dokumentasi bukti
Simpan foto before/after packing, weighbridge ticket, packing list, dan e-AWB secara minimum 12 bulan.
Ketika klaim terjadi: kumpulkan chain of custody, photo evidence, acceptance note, dan correspondence.
Proses klaim efektif memerlukan dokumentasi yang rapi sejak awal packing.
13. Keberlanjutan dalam packaging
Pilih material yang dapat didaur ulang (corrugated cardboard certified).
Gunakan returnable pallets / crates when possible.
Optimalkan packaging design to minimize volume (mengurangi dim weight).
Komunikasikan opsi green packaging kepada pelanggan sebagai layanan premium.
14. Contoh studi kasus praktis (ringkas)
Kasus 1 — Elektronika high-value
Masalah: beberapa unit rusak karena kondensasi saat transit.
Solusi: gunakan vapour barrier bag + desiccant + thermal buffer; pasang temperature & humidity logger; hasil: klaim turun 95% selama 6 bulan.
Kasus 2 — Farmasi suhu 2–8°C
Masalah: inconsistent temperature during transhipment.
Solusi: validated cool chain box with PCM, pre-cooled packing, dan pre-alert handler untuk priority handling; gunakan data logger; hasil: zero excursions selama 3 bulan pilot.
15. Contoh label & packing list template (singkat)
Label contoh (sticker front):
AWB: 123-45678901 Koli: 2/5 Gross: 18.5 kg Dim: 60×40×50 cm Handle: FRAGILE / THIS SIDE UP Shipper: PT. Contoh Consignee: PT. Tujuan Contact: +62-812-xxx-xxxx
Packing list (fields minimal):
AWB/HAWB
No. Koli (1/5 …)
Deskripsi Barang (HS code optional)
Qty per koli
Gross weight per koli
Dimension per koli
Pallet info (jika applicable)
Special handling instructions
Signature & date
16. Rekomendasi praktis ringkas
Selalu timbang & ukur setiap unit sebelum acceptance — jangan andalkan declared weight saja.
Unitisasi bila mungkin; pallet yang benar meningkatkan efisiensi dan mengurangi kerusakan.
Gunakan photo evidence pada setiap tahap packing & gate.
Untuk DG & cold chain, libatkan specialist; jangan eksperimen.
Implementasikan checklist QA & sampling test rutin.
Latih packers, dokumentasikan SOP, dan lakukan internal audit berkala.
Pertimbangkan sustainability dalam material selection.
17. Penutup — langkah selanjutnya
Pengemasan kargo udara adalah perpaduan antara teknik proteksi barang, kepatuhan regulasi, dan efisiensi bisnis
Siap mengirimkan kargo Anda? Kirimkan melalui Hasta Buana Raya untuk solusi logistik yang andal dan aman!
👉 Hubungi 📱 +62 822-3300-4972 (WhatsApp/Telepon) untuk informasi lebih lanjut dan solusi pengiriman terbaik!
Kami menyediakan layanan pengiriman yang aman, nyaman, dan terjangkau dari seluruh Indonesia. Layanan prioritas kami meliputi:
Pengiriman barang melalui udara (Pesawat Kargo, Sewa, dan Penerbangan Khusus)
Metode Pengiriman yang berbeda (Bandara ke Bandara , Gudang ke Gudang , dan Bandara ke Gudang)
Gudang dan Distribusi
Kontak
Bantuan
+62 822-3300-4972 (CS 1)
© 2024. Semua hak cipta dilindungi.


+62-811-9778-889
+62 822-3300-4973 (CS 2)
