Shipping Marks dalam Pengiriman Barang via Kargo Laut

Shipping Marks dalam Pengiriman Barang via Kargo Laut

Digital Marketing

12/22/20257 min baca

Cardboard box sealed with red fragile tape
Cardboard box sealed with red fragile tape

Pendahuluan — Mengapa Shipping Marks Penting?

Shipping marks adalah tanda, teks, dan simbol yang dicetak atau ditempelkan pada kemasan barang (karton, palet, drum, kontainer) yang memberi informasi identifikasi penting ketika barang bergerak melalui rantai pasok—terutama pada pengiriman laut. Sekilas tampak sepele: beberapa huruf, angka, dan panah. Namun fungsi shipping marks sangat strategis:

  • Memudahkan identifikasi muatan di terminal dan selama bongkar-muat.

  • Menjadi rujukan dalam pemeriksaan bea cukai dan verifikasi dokumen.

  • Mengurangi risiko salah kirim (mis-routing) dan mempercepat penanganan.

  • Menunjukkan penanganan khusus (mis. fragile, this side up, keep dry).

  • Menjadi bukti visual dalam klaim jika terjadi kerusakan.

Artikel ini membahas tuntas apa yang harus ada di shipping marks, bagaimana menatanya agar efektif, standar cetak dan material, aturan kepabeanan, contoh konkret, serta checklist operasional sehingga Anda tak lagi dibuat pusing oleh kasus salah muat, hold bea cukai, atau klaim rusak dalam Pengiriman Barang.

1. Apa itu Shipping Marks — Definisi & Ruang Lingkup

Shipping marks adalah label visual yang menampilkan informasi ringkas dan dapat dibaca sebelum membuka kemasan. Biasanya ditempatkan di sisi luar kemasan dan berisi beberapa elemen inti: identitas penerima, nomor referensi (PO/AWB/SJ), berat/volume, simbol penanganan, negara asal/tujuan, dan tanda orientasi.

Ruang lingkupnya meliputi:

  • Kotak kardus / box

  • Palet dan stretch-wrapped loads

  • Drum, sack, bale

  • Wooden crates dan case

  • Unit Load Device (ULD) pada kargo udara (konsep sama berlaku)

  • Kontainer (pada tingkat unit atau pada dokumen yang melekat)

Walau aturan detail bisa berbeda per negara atau perusahaan pelayaran, prinsip-prinsip dasar shipping marks bersifat universal: singkat, konsisten, mudah dibaca.

2. Fungsi Utama Shipping Marks (lebih rinci)

  1. Identifikasi Cepat: Saat kontainer dibuka, petugas gudang bisa langsung melihat ke mana tiap paket harus dikirim—tanpa membuka semua paket.

  2. Koordinasi Penanganan: Menunjukkan instruksi penanganan (fragile, keep dry), sehingga forklift/handler tahu perlakuan yang harus dilakukan.

  3. Verifikasi Dokumen: Mempermudah pencocokan physical goods dengan data di AWB, B/L, invoice, dan packing list.

  4. Manajemen Inventori & Pick/Pack: Mempercepat proses sortir pada cross-dock, konsolidasi LCL, atau loading ke feeder/truck.

  5. Penyelesaian Klaim: Foto shipping marks bersama kondisi packaging menjadi bukti penting bila ada dispute.

  6. Keselamatan & Kepatuhan: Menampilkan simbol bahaya (jika ada) atau petunjuk legal yang diperlukan oleh regulator.

3. Elemen Wajib & Rekomendasi dalam Shipping Marks

Berikut daftar elemen yang biasa ada—urutannya bisa disesuaikan menurut kebutuhan operasional.

3.1 Identitas Penerima (Consignee)

  • Nama singkat penerima atau kode perusahaan (hindari alamat penuh di mark untuk menghemat ruang).

  • Contoh: PT. MAJU BERSAMA / MBR-SP.

3.2 Nomor Referensi Utama

  • PO (Purchase Order) atau Sales Order.

  • Nomor manifest atau nomor pengiriman (AWB / B/L / SJ).

  • Contoh: PO: PO-2025-055 / AWB: 123-45678901.

3.3 Nomor Box / Koli & Total

  • Format umum: 1/12, 2/12 — menandakan urutan paket dan total paket untuk pengiriman yang sama.

  • Sangat berguna saat memeriksa kelengkapan.

3.4 Berat & Dimensi (opsional tapi berguna)

  • Berat bruto (kg) dan dimensi (cm) bila diperlukan untuk handling.

  • Contoh: G.W.: 25kg / DIM: 60x40x35 cm.

3.5 Negara Asal / Tujuan

  • Singkatan negara sesuai standar ISO dua huruf bisa dipakai (ID untuk Indonesia, SG untuk Singapura), atau nama negara jika diperlukan.

  • Contoh: TO: MY (Malaysia).

3.6 Simbol Penanganan Khusus

  • Fragile (pecah belah), This Side Up (panah ke atas), Keep Dry (payung), Do Not Stack, Center of Gravity, Forklift Entry, dll. Gunakan simbol standar internasional agar universal.

  • Simbol meminimalkan miskomunikasi.

3.7 Informasi Hazardous (jika berlaku)

  • Jika barang berbahaya, harus tampil klasifikasi UN Number, class label, dan emergency contact sesuai aturan internasional. Jangan menulis informasi DG sembarangan — ikuti peraturan IATA/IMDG bila berlaku.

3.8 Barcode / QR Code (opsional namun sangat membantu)

  • Kode untuk scan cepat dan integrasi ke WMS. Cantumkan AWB/PO dalam barcode supaya verifikasi digital lebih cepat. Jangan hanya mengandalkan QR tanpa teks manusia-baca.

3.9 Company Logo & Contact

  • Logo opsional; cantumkan nomor telepon pengirim/forwarder bila perlu (berguna jika ada perbedaan). Namun jangan membuat mark berantakan — ringkas itu kunci.

4. Format & Tata Letak Shipping Marks yang Baik

Prinsip dasar: keterbacaan dari jarak ~2–3 meter, kontras warna, dan konsistensi penempatan.

4.1 Ukuran font & huruf

  • Gunakan font sans-serif yang tebal. Minimum tinggi huruf besar (cap height) 25–30 mm untuk penting teks (mis. consignee, nomor koli).

  • Untuk keterangan sekunder (berat, dimensi) gunakan font lebih kecil (12–18 mm).

4.2 Warna & Kontras

  • Warna gelap (hitam/navy) pada latar terang (karton cokelat). Untuk palet atau kontainer gelap, gunakan warna putih.

  • Hindari warna yang pudar atau kombinasi yang menyulitkan baca.

4.3 Penempatan pada kemasan

  • Tandai dua sisi berlawanan (sisi kiri dan kanan) sehingga mudah terbaca dari berbagai arah saat susun di palet atau wadah.

  • Untuk kotak: sisi panjang atas dan samping. Untuk palet: sisi depan dan samping.

  • Jangan letakkan mark pada lem atau perekat karena akan sulit terbaca.

4.4 Spatial hierarchy (prioritas informasi)

  • Baris 1: Nama penerima / kode.

  • Baris 2: Nomor referensi utama (PO/AWB/B/L).

  • Baris 3: No. box (1/12) dan berat/dimensi.

  • Kanan/bawah: simbol handling.

  • Sisipkan barcode di area yang mudah dipindai (sisi depan, tanpa lipatan).

4.5 Template visual (contoh)

┌──────────────────────────────────────────────┐ │ PT. MAJU BERSAMA / MBR-SP │ ← Font besar │ PO: PO-2025-055 AWB: 123-45678901 │ │ Box: 1/12 G.W.: 25kg │ │ DIM: 60x40x35 cm │ │ ↑↑ Fragile Keep Dry DO NOT STACK ↑↑ │ ← Simbol │ [QR:AWB12345678901] FROM: ID TO: MY │ └──────────────────────────────────────────────┘

5. Standar Simbol & Ikon Penanganan (Referensi Praktis)

Gunakan simbol yang diakui internasional (ISO / UNECE / IMDG). Berikut beberapa yang paling sering dipakai:

  • Fragile (pecah belah) — gelas retak

  • This Side Up — dua panah atas

  • Keep Dry — payung

  • Protect from Heat — matahari dengan garis

  • Do Not Stack — simbol kotak dengan tanda tarik/larangan

  • Do Not Use Hooks — kait silang

  • Center of Gravity — titik dan garis panduan

  • Forklift Entry — simbol garpu forklift

  • UN Number & Class Label — diamond labels untuk bahan berbahaya

Gunakan stiker/symbol durable agar tak luntur saat exposure air/dirt.

6. Cetak vs. Label Perekat: Mana yang Lebih Baik?

Kedua metode punya kelebihan dan kekurangan.

6.1 Cetak langsung (stenciling / screen printing)

Kelebihan:

  • Tahan lama, tidak mudah terlepas.

  • Hemat untuk volume besar dan packaging berulang (mis. wooden crate).
    Kekurangan:

  • Kurang fleksibel untuk kasus terakhir menit (last-minute changes).

  • Perlu alat cetak atau stencil.

6.2 Label perekat (self-adhesive)

Kelebihan:

  • Fleksibel: bisa dicetak on-demand, cocok untuk e-commerce/parcel.

  • Bisa berisi barcode/QR dan cetak warna.
    Kekurangan:

  • Perekat bisa lepas bila permukaan berminyak/dingin/panas; kualitas perekat penting.

  • Rentan tergores atau luntur.

Rekomendasi praktis: kombinasi keduanya: cetak stencil pada box untuk info utama (consignee / PO / box no.) dan gunakan label perekat untuk barcode / info variabel.

7. Shipping Marks pada Kontainer & Palet: Praktik Khusus

7.1 Labeling palet

  • Pada pallet stretch-wrapped, shipping marks ditempel di sisi luar wrapping, dan sebaiknya ada tanda di keempat sisi (front/back/left/right).

  • Gunakan pallet tags (plastic pockets) jika banyak dokumen terlampir.

7.2 Mark pada kontainer

  • Pada tingkat kontainer, informasikan nomor kontainer (container no.), operator, port of loading (POL) dan port of discharge (POD), namun banyak info besar ini ada di dokumen. Jangan tulis info sensitif di luar container yang bisa memancing pencurian—gunakan marks ringkas dan gunakan dokumen electronic untuk detail.

7.3 Barang berat atau over-dimensional

  • Tulis peringatan ukuran/weight, titik pengangkatan, dan center of gravity jelas agar crane operator tahu cara safe lifting.

8. Shipping Marks & Kepabeanan: Hal yang Perlu Diwaspadai

Beberapa masalah kepabeanan yang sering muncul terkait shipping marks:

8.1 Informasi tak lengkap → hold customs

  • Jika shipping marks tidak cocok dengan packing list atau invoice (mis. nomor PO/AWB berbeda), barang bisa ditahan untuk pemeriksaan. Konsistensi data penting.

8.2 Deskripsi ambigu / misleading

  • Tulis deskripsi ringkas namun akurat: Electrical Parts lebih baik dari Accessories jika dokumen menyebutkan komponen elektronika. Hindari istilah yang menyesatkan yang bisa memicu pemeriksaan lebih lanjut.

8.3 Barang berbahaya tidak ditandai dengan benar

  • Bahan berbahaya harus diberi label dan marks sesuai regulasi IMDG; kegagalan melabel dapat menyebabkan sanksi dan tolak muat.

8.4 Nilai & customs declaration

  • Shipping marks bukan tempat menulis value, tetapi pastikan nomor referensi memudahkan officer menemukan invoice. Jangan menulis informasi harga di bagian luar kemasan.

Praktik terbaik: cross-check shipping marks dengan packing list dan commercial invoice sebelum gate-out.

9. Digitalisasi Shipping Marks: Barcode & QR secara Bijak

Menambahkan barcode atau QR mempercepat proses scan dan integrasi ke WMS/TMS. Namun jangan menggantikan teks manusia-baca.

Tips implementasi:

  • Sertakan backup teks selain barcode.

  • Gunakan GS1 standards (SSCC) jika ingin integrasi global.

  • Pastikan ukuran barcode cukup besar untuk scan cepat.

  • Cetak barcode pada media matte untuk menghindari pantulan.

Catatan: teknologi membantu, tetapi physical mark harus tetap jelas bila scanner tidak tersedia.

10. Kesalahan Umum & Cara Menghindarinya

  1. Mark di tempat yang salah atau tertutup: Pastikan tidak diletakkan di area tertutup stretch film, lem, atau pita.

  2. Informasi tidak sinkron: Selalu lakukan 3-way match (packing list, invoice, mark).

  3. Teks terlalu kecil atau kontras buruk: Gunakan ukuran dan warna yang cukup.

  4. Label yang mudah lepas: Pilih label berkualitas atau cetak langsung.

  5. Terlalu banyak informasi tanpa hirarki: Prioritaskan apa yang harus dibaca cepat.

  6. Tidak menyertakan language neutral symbols: Untuk rute internasional, gunakan simbol standar agar netral bahasa.

11. Contoh Template Shipping Marks (Siap Pakai)

Berikut beberapa template yang bisa dicetak sebagai stencil atau dijadikan format label:

Template A — Koli Standar (Retail / B2B)

[CONSIGNEE] PT. KONSUMEN MAJU PO: PO-2025-055 AWB: 123-45678901 BOX: 03/12 G.W.: 18kg DIM: 50x40x30 cm ↑↑ FRAGILE KEEP DRY DO NOT STACK ↑↑ [QR: AWB12345678901]

Template B — Palet (Multiple Boxes)

PT. MAJU BERSAMA / MBR-SP PO: PO-2025-055 PALLET: P-07 BOXES: 1-12 G.W. TOTAL: 360kg DEST: KUALA LUMPUR (MY) POD: KL PORT FORKLIFT ENTRY (↔) DO NOT STACK

Template C — Heavy / Overdimensional

OVERSIZE: L = 560 cm W = 220 cm H = 300 cm Weight: 5200 kg LIFT POINTS: SEE DIAGRAM (ATTACHED) CENTER OF GRAVITY: MARKED CRANE LIFT ONLY / DO NOT ROLL

Anda bisa menyesuaikan format baris dan ukuran font sesuai kebutuhan.

12. Checklist Operasional Shipping Marks (Untuk Gudang & Pengiriman)

Sebelum packing / stuffing

  • Pilih template shipping marks yang sesuai.

  • Siapkan stencil/label printer dan bahan perekat yang cocok.

  • Pastikan data AWB/PO/box number up-to-date di ERP/WMS.

Sebelum gate-out

  • Cek 3-way match antara mark, packing list, dan invoice.

  • Foto setiap sisi shipping marks untuk arsip.

  • Pastikan marks terlihat (tidak tertutup pita/film).

  • Barcode/QR dapat dipindai (uji sample minimal 1 box per pallet).

  • Jika barang DG/oversize, pastikan simbol & dokumen lengkap.

Setelah tiba tujuan

  • Penerima verifikasi box numbers dan total koli.

  • Simpan foto mark & kondisi sebagai bukti penerimaan.

13. Studi Kasus Singkat: Kesalahan Shipping Mark dan Dampaknya

Kasus: Sebuah eksportir menempelkan label lama (dengan PO berbeda) akibat terburu-buru. Saat tiba di pelabuhan tujuan, beberapa box tercantum sebagai milik customer lain—mengakibatkan hold customs dan perlu inspeksi fisik. Delay 5 hari dan biaya demurrage meningkat.

Pembelajaran: selalu gunakan check list penerbitan mark dan foto pra-gate-out. Perubahan menit terakhir wajib dicetak ulang.

14. Rekomendasi Implementasi di Perusahaan (Langkah Aksi)

  1. Standardisasi template shipping marks perusahaan dan integrasikan ke WMS.

  2. Sediakan stencils & label printer di packing station; latih staf penggunaan.

  3. Gunakan barcode GS1/SSCC untuk integrasi scan di pelabuhan/gudang.

  4. Buat SOP 3-way match sebelum gate-out.

  5. Lakukan audit random 1%–5% pengiriman bulanan untuk kualitas mark.

  6. Simpan foto marks sebagai bagian dari dokumentasi pengiriman.

Implementasi sederhana ini menurunkan risiko kesalahan dan mempercepat alur logistik.

15. Penutup — Ringkasan & Actionable Takeaway

Shipping marks bukan sekadar teks di karton — ia adalah bahasa operasi logistik yang harus dipahami dan distandarkan

Siap mengirimkan kargo Anda? Kirimkan melalui Hasta Buana Raya untuk solusi logistik yang andal dan aman!
👉 Hubungi 📱 +62-822-5840-1230 (WhatsApp/Telepon) untuk informasi lebih lanjut dan solusi pengiriman terbaik!