Pengiriman Hewan Ternak via Kargo Darat

Panduan komprehensif pengiriman hewan ternak lewat kargo darat: aturan dan regulasi, persiapan hewan & peternak, desain kendaraan, standar kesejahteraan (fit to travel, feeding, watering, resting), kepadatan muat (loading density), biosekuriti, dokumentasi (surat jalan hewan, sertifikat kesehatan, izin karantina), SOP darurat, rekomendasi pelatihan kru, checklist operasional, dan studi kasus dalam pengiriman barang

Digital Marketing

12/18/20259 min baca

green and yellow bird cage
green and yellow bird cage

Pembuka — Mengapa Panduan Ini Penting?

Transportasi hewan ternak adalah pekerjaan sensitif yang menggabungkan aspek kesejahteraan hewan, kesehatan hewan, logistik, dan kepatuhan administratif. Salah penanganan akan menyebabkan stres dan cedera hewan, kerugian ekonomis bagi pemilik, penahanan oleh otoritas karantina, bahkan risiko penyebaran penyakit menular. Kargo darat tetap menjadi moda utama pengiriman hewan ternak di banyak negara karena fleksibilitas dan akses ke wilayah pedesaan. Namun agar aman, etis, dan legal, ada standar teknis yang harus dipahami dan diterapkan.

Panduan ini merangkum prinsip-prinsip internasional, praktik terbaik, dan peraturan nasional yang relevan, serta langkah-langkah praktis untuk setiap tahap pengiriman — dari persiapan di kandang hingga serah terima di lokasi tujuan.

Catatan sumber: beberapa rekomendasi standar diambil dari pedoman internasional (OIE / WOAH dan FAO) serta dokumen teknis dan peraturan nasional terkait karantina dan kesejahteraan hewan dalam Pengiriman.

1. Kerangka Regulasi & Standar Internasional yang Perlu Diketahui

Sebelum merencanakan pengiriman, pahami kerangka aturan yang membentuk kewajiban:

  • OIE / WOAH — Transport of Animals by Land: standar internasional untuk kesejahteraan hewan dalam transport darat, meliputi tanggung jawab pihak pengirim, desain kendaraan, penilaian 'fitness to travel', perencanaan perjalanan, dan penanganan selama perjalanan. Pedoman ini menjadi rujukan wajib bagi banyak negara dan lembaga veteriner. woah.org

  • FAO / Panduan Teknis: banyak publikasi FAO menguraikan desain kendaraan, hygiene, dan perlakuan terhadap ternak saat pemuatan dan pembongkaran sehingga mengurangi risiko luka dan kontaminasi.

  • Peraturan Nasional (contoh Indonesia): Indonesia memiliki peraturan dan Permentan terkait karantina, kesehatan hewan, dan kesejahteraan hewan dalam transportasi yang harus dipenuhi—misalnya aturan terkait instalasi karantina sementara, persyaratan kesehatan hewan, dan rekomendasi persetujuan pemasukan/pengeluaran ternak. Pastikan memeriksa peraturan setempat yang berlaku.

Intinya: standar internasional menetapkan prinsip dasar, sementara peraturan nasional menentukan prosedur administratif dan persetujuan lokal. Selalu padukan keduanya dalam rencana pengiriman.

2. Perencanaan Awal: Tujuan, Risiko & Rute

Rencana yang baik dimulai jauh sebelum hewan masuk truk.

2.1 Tentukan tujuan & urgency

  • Apakah ternak dipindah untuk pasar, potong, penggembalaan, pameran, atau ekspor? Tujuan menentukan dokumen yang dibutuhkan (mis. sertifikat kesehatan, izin perdagangan antar-daerah atau antar-negara).

2.2 Identifikasi risiko utama

  • Cuaca ekstrim, kondisi jalan buruk, jalur panjang tanpa tempat istirahat, potensi epidemi/karantina, dan ketersediaan fasilitas di rute (veteriner, air bersih). Buat mitigasi untuk masing-masing.

2.3 Pilih rute optimal

  • Prioritaskan rute dengan permukaan jalan baik, akses ke fasilitas pemeriksaan/veteriner, dan waktu tempuh lebih singkat. Hindari rute rawan macet jika kemungkinan delay akan menyebabkan hewan mengalami dehidrasi atau stres berlebihan.

2.4 Perencanaan timing

  • Pilih jam keberangkatan yang mendingin (pagi atau malam untuk cuaca panas) bila memungkinkan. Sesuaikan jadwal dengan waktu penerimaan di tujuan agar tidak menunggu terlalu lama di lapangan.

Rencana perjalanan harus dituangkan dalam dokumen perjalanan (journey plan) yang memuat rute, titik istirahat, nama sopir/handler, nomor telepon kontak veterinari, dan estimasi waktu. Prinsip ini sejalan dengan pedoman internasional.

3. Kesiapan Hewan: Seleksi & Fitness to Travel

Hewan harus dinilai siap dibawa sebelum dimuat.

3.1 Pemeriksaan kesehatan pra-angkut

  • Dokter hewan harus memeriksa semua ternak untuk menilai 'fitness to travel'. Hewan sakit, luka parah, sangat muda, menyusui intensif, atau baru saja melahirkan tidak layak untuk perjalanan jauh. Jika status fitness meragukan, tindakan medis atau penundaan pengiriman diperlukan. Prinsip ini ada pada OIE: hewan yang tidak fit tidak boleh dimuat kecuali untuk tujuan pengobatan. 1

3.2 Persiapan fisik ternak

  • Lakukan pembersihan sederhana (pembebasan kotoran yang berlebih), cek kuku atau kop, dan berikan waktu istirahat sebelum loading. Jangan berikan pakan berlebih yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan saat guncangan jalan.

3.3 Vaksin dan perlakuan medis

  • Pastikan vaksinasi dan pengobatan parasit (jika dipersyaratkan) telah dilakukan dan tercatat. Jangka waktu vaksin/pengobatan dan masa tunggu yang dipersyaratkan perlu dicatat agar tidak melanggar aturan residu atau syarat kesehatan hewan untuk tujuan tertentu.

3.4 Dokumen identifikasi

  • Sertakan identitas hewan: tag telinga, microchip (jika ada), nomor batch. Ini memudahkan identifikasi pada serah terima. Dokumen CoC (chain-of-custody) dan keberadaan identifikasi resmi juga sangat membantu untuk traceability.

Dokumen dan pemeriksaan fitness to travel tidak hanya etis, tetapi juga mengurangi risiko penahanan saat pemeriksaan karantina.

4. Desain Kendaraan & Persyaratan Teknis

Transportasi aman bergantung pada kendaraan yang dirancang untuk hewan.

4.1 Struktur & bahan kendaraan

  • Lantai harus kuat, anti-slip, dan mudah dibersihkan; dinding dan sekat (partition) harus aman tanpa celah yang melukai hewan; ventilasi harus cukup untuk distribusi udara seimbang di semua dek. FAO menekankan desain yang meminimalkan cedera dan memudahkan hygiene.

4.2 Ventilasi & perlindungan cuaca

  • Ventilasi mekanis atau pasif baik untuk mencegah penumpukan panas. Di iklim panas, hindari penerbangan tanpa ventilasi memadai. Sekat harus memungkinkan hewan mendapatkan udara tanpa paparan langsung angin kencang.

4.3 Kompartemen & sekat

  • Gunakan sekat yang dapat memisahkan hewan berdasarkan ukuran, jenis, atau temperamen. Sekat mencegah cedera akibat dorong-mendorong dan memungkinkan distribusi berat yang seimbang.

4.4 Akses untuk pakan & air

  • Sediakan wadah pakan/air yang aman dan mudah diisi ulang lewat akses luar. Untuk perjalanan panjang, pastikan ada prosedur refill di titik istirahat.

4.5 Kebersihan & sanitasi

  • Desain kendaraan harus memungkinkan pembersihan dan sanitasi mudah setelah perjalanan untuk mencegah penularan penyakit. Larutan desinfektan yang sesuai harus tersedia.

Standar teknis dan rekomendasi tersebut didukung oleh FAO dan pedoman kesejahteraan hewan lainnya.

5. Kapasitas & Kepadatan Muat (Loading Density)

Menentukan ruang yang ideal per hewan sangat penting: terlalu sesak → cedera dan stres; terlalu longgar → terjatuh dan terluka saat kendaraan bergerak.

5.1 Prinsip umum

  • Kepadatan ruang harus mempertimbangkan ukuran hewan, bobot, umur, dan kondisi fisiologis (hamil, menyusui). Juga harus memperhitungkan kondisi cuaca dan durasi perjalanan (lebih longgar untuk perjalanan panjang dan cuaca panas).

5.2 Contoh pedoman kepadatan

  • Pedoman praktis untuk sapi dewasa, domba, kambing, dan babi disediakan oleh berbagai badan teknis: misalnya tabel ruang per ekor berdasarkan berat yang dipakai di industri dan pedoman BQA/Global SLP. Panduan ini memberikan angka kuantitatif untuk mengoptimalkan ruang per hewan dan meminimalkan tekanan permukaan berat tubuh.

5.3 Penyesuaian kondisi

  • Saat cuaca panas, kurangi kepadatan muat hingga 10–20% untuk memberi ruang pendinginan. Untuk perjalanan singkat dalam cuaca dingin, kepadatan bisa dibuat lebih besar jika aman.

Selalu gunakan tabel kepadatan yang diakui dan lakukan penyesuaian praktik sesuai kondisi lapangan dan rekomendasi veteriner.

6. Penanganan Loading & Unloading — Teknik Aman untuk Mengurangi Cedera

Loading/unloading adalah fase paling berisiko untuk cedera.

6.1 Desain ramp & fasilitas muat

  • Ramp harus memiliki kemiringan aman, permukaan anti-slip, dan lebar yang sesuai untuk hewan yang dimuat. Lampu dan penutup kilau (untuk menghindari pantulan yang membuat hewan takut) harus diperhatikan.

6.2 Teknik pemindahan hewan

  • Handler harus menggunakan perilaku tenang: suara rendah, gerakan perlahan, dan penggunaan alat pendorong yang tidak menyebabkan luka atau stress (mis. balk atau flag, bukan hentakan).

6.3 Penggunaan penuntun & pembagian kelompok

  • Masukkan hewan secara kelompok kecil yang saling menuntun. Untuk spesies teritorial, pisahkan individu agresif dan jangan campurkan hewan dari kelompok berbeda jika memungkinkan.

6.4 Waktu muat yang wajar

  • Hindari memaksakan muat di tengah terik siang hari. Lakukan muat secara bertahap dan pastikan jeda ketika waktu terlalu lama.

OIE dan FAO memberikan pedoman rinci untuk fasilitas loading dan teknik memindahkan hewan agar risiko minimum.

7. Nutrisi, Air Minum & Istirahat Selama Perjalanan

Perawatan dasar selama perjalanan menentukan status kesehatan saat sampai tujuan.

7.1 Pemberian air & pakan

  • Untuk perjalanan <8 jam, banyak hewan dapat tahan tanpa pakan; namun air harus selalu tersedia. Untuk perjalanan >8 jam, jadwalkan pemberian pakan dan pengisian air di titik istirahat. Gunakan wadah yang aman dan tidak mudah tumpah saat jalan bergelombang.

7.2 Frekuensi istirahat

  • Rencanakan titik istirahat setiap 8–12 jam untuk pemeriksaan, pemberian air, dan pembuangan kotoran jika diperlukan. Untuk kondisi cuaca ekstrim, frekuensi ini harus ditingkatkan.

7.3 Monitoring selama perjalanan

  • Handler harus memantau tanda-tanda stres: peningkatan respirasi, terengah-engah, melengkung punggung, isolasi dari kelompok. Jika terdeteksi, siapkan rencana mitigasi (pendinginan, perawatan veteriner).

Pedoman OIE menyarankan perencanaan yang membutuhkan pemberian air, pakan, dan istirahat yang cukup sebagai bagian dari journey plan.

8. Biosekuriti & Kebersihan: Mencegah Penyakit Menular

Perjalanan menggabungkan hewan dari lokasi berbeda — risiko penularan tinggi jika biosekuriti diabaikan.

8.1 Pembersihan sebelum muat

  • Kendaraan harus dibersihkan dan disanitasi sebelum pemuatan hewan baru; hindari penggunaan kendaraan yang belum dibersihkan dari muatan sebelumnya kecuali telah disinfeksi.

8.2 Pembatasan akses dan PPE

  • Batasi akses ke area muat untuk mengurangi kontak intraspesies atau manusia-hewan yang tidak perlu. Handler harus memakai alat pelindung diri (sarung tangan, sepatu tertutup) untuk mengurangi risiko perpindahan patogen.

8.3 Manajemen kotoran & limbah

  • Sediakan prosedur pembuangan limbah dan kotoran yang aman dan sesuai regulasi setempat. Sampah organik kalau dibiarkan akan menimbulkan sumber patogen.

8.4 Pemantauan kesehatan pasca-angkut

  • Catat semua kejadian penyakit selama dan setelah perjalanan. Jika ditemukan gejala penyakit menular, lakukan isolasi dan hubungi otoritas veteriner.

Protokol biosekuriti adalah persyaratan hukum dan praktis untuk menjaga kesehatan populasi ternak.

9. Dokumentasi & Perizinan: Surat Jalan Hewan, Sertifikat Kesehatan, Karantina

Dokumen lengkap memudahkan proses di lapangan dan mencegah penahanan.

9.1 Surat Jalan Hewan & manifiest kargo

  • Surat jalan harus memuat identitas pengirim, penerima, nomor identifikasi hewan, jumlah, jenis, tujuan, rute, dan nama sopir. Ini menjadi dokumen dasar saat checkpoint polisi jalan dan otoritas karantina.

9.2 Sertifikat kesehatan & pemeriksaan veteriner

  • Sertifikat kesehatan dikeluarkan oleh pejabat veteriner yang berwenang yang menyatakan hewan bebas dari penyakit tertentu dan fit to travel. Untuk ekspor/antar-provinsi mungkin ada persyaratan tambahan. Di banyak negara, dokumen ini wajib.

9.3 Izin karantina & persetujuan impor/ekspor

  • Untuk lalu lintas lintas wilayah atau internasional, koordinasikan dengan badan karantina (NPPO) dan pastikan semua izin pemasukan/pengeluaran/prosedur karantina dipenuhi. Di Indonesia, ada Permentan yang mengatur mekanisme tindakan karantina dan izin terkait.

9.4 Record keeping

  • Simpan semua dokumen selama periode yang disyaratkan oleh hukum (mis. untuk audit atau traceability). Dokumentasi juga diperlukan untuk klaim asuransi jika ada kerugian.

Dokumen yang lengkap mempercepat pemeriksaan dan meminimalkan potensi masalah administratif.

10. Pelatihan Kru & Kompetensi Handler

Manusia adalah faktor penentu utama kelancaran dan keselamatan pengiriman.

10.1 Kompetensi handler

  • Handler harus dilatih memahami perilaku ternak, teknik loading/unloading yang aman, observasi tanda-tanda stres, serta tindakan darurat. Kebanyakan pedoman internasional menekankan bahwa handler berpengalaman mengurangi kecelakaan dan stres hewan.

10.2 Sertifikasi dan refresh training

  • Program pelatihan periodik dan sertifikasi internal (atau eksternal) memastikan standar tetap terjaga. Dokumentasikan training dan sertifikat untuk audit.

10.3 Briefing sebelum berangkat

  • Lakukan briefing singkat tentang rencana perjalanan, rute, titik istirahat, jadwal pakan/air, dan kontak darurat. Pastikan kru memahami langkah-langkah darurat bila ada masalah di jalan.

Investasi pada training mengurangi angka cedera dan meminimalkan risiko bisnis.

11. Penanganan Darurat: Rencana & Peralatan

Siapkan prosedur tertulis untuk kondisi darurat: kecelakaan, luka, wabah, atau breakdown kendaraan.

11.1 Peralatan wajib di kendaraan

  • Kotak P3K untuk hewan, perlengkapan dasar perbaikan kendaraan, lampu darurat, alat untuk memindahkan hewan, dan nomor kontak klinik/veteriner darurat sepanjang rute.

11.2 Prosedur evakuasi & rujukan

  • Tentukan rencana evakuasi jika kendaraan tidak bisa bergerak — titik terdekat untuk perawatan veteriner atau penampungan sementara.

11.3 Dokumentasi insiden

  • Setiap insiden harus dicatat (BAP) termasuk nama saksi, waktu, kondisi hewan, dan tindakan yang diambil. Ini penting untuk klaim asuransi dan laporan kepada otoritas.

Rencana darurat yang terlatih dan dikomunikasikan mengurangi dampak insiden.

12. Asuransi & Tanggung Jawab Hukum

Asuransi komersial melindungi pemilik/penyewa terhadap kerugian.

12.1 Jenis asuransi yang relevan

  • Cargo insurance for livestock: menutup kehilangan ternak atau kematian selama transit jika disebabkan oleh kondisi tertentu.

  • Liability insurance: menutup kerusakan pihak ketiga akibat kecelakaan yang melibatkan kendaraan angkutan hewan.

12.2 Ketentuan polis & bukti klaim

  • Pahami syarat klaim: waktu pelaporan (biasanya 24–72 jam), document required (surat jalan, sertifikat kesehatan, foto, BAP), dan pengecualian (mis. kelalaian/ketidaksesuaian packing).

Selalu bandingkan polis dan pastikan cakupan untuk resampling/rehabilitasi jika relevant.

13. Spesies Khusus: Catatan Teknikal untuk Cattle, Small Ruminants, Babi, Kuda, dan Unggas

Berbagai hewan punya kebutuhan khusus.

13.1 Sapi (cattle)

  • Butuh ruang berdiri yang memadai (lihat pedoman kepadatan), support untuk berdiri saat rem mendadak, dan pengamanan untuk tanduk/kepala. Kuda memerlukan perhatian pada stabilitas dan bahan warna gelap yang memicu stress.

13.2 Kambing & domba (small ruminants)

  • Sensitif terhadap kepadatan tinggi dan perubahan suhu. Pastikan ventilasi memadai dan pemisahan bila perlu.

13.3 Babi

  • Peka terhadap suhu tinggi; kepadatan muat berdasarkan berat ideal dan tekanan permukaan yang ditoleransi. Perhatian terhadap damper suhu vital.

13.4 Kuda

  • Kuda memerlukan ruang untuk menyeimbangkan badan; kendaraan khusus (box/trailer berkuda) lebih aman. Kuda juga memerlukan perlakuan tenang saat loading.

13.5 Unggas

  • Biasanya butuh ventilasi intensif dan penanganan khusus karena kerap stres. Jongkok kandang harus sesuai ukuran dan pengaturan crate harus stabil.

Gunakan pedoman species-specific saat menyusun packing dan perjalanan.

14. Kebijakan Etis & Kesejahteraan Hewan

Praktik pengiriman hewan harus menghormati prinsip kesejahteraan: hindari penderitaan yang tidak perlu, pastikan kebutuhan biologis dipenuhi, dan gunakan alternatif jika perjalanan menimbulkan risiko tinggi.

14.1 Alternatif untuk perjalanan panjang

  • Pertimbangkan relocation by rest-and-feed stops atau pengiriman hewan ke bawah umur jika transportasi membahayakan.

14.2 Audit welfare dan continuous improvement

  • Lakukan audit rutin dan catat KPI kesejahteraan seperti mortalitas, luka, stress indicators, dan waktu perjalanan rata-rata.

Etika dan welfare bukan hanya kepatuhan hukum tetapi juga menjaga reputasi dan kelangsungan usaha.

15. Checklist Operasional Siap Pakai (Ringkas & Praktis)

Pra-angkut

  • Periksa sertifikat kesehatan & fitness to travel.

  • Pastikan kendaraan bersih, ventilasi & sekat aman.

  • Cek food/water supply & peralatan P3K hewan.

  • Briefing kru & lampirkan journey plan.

  • Pastikan dokumen (surat jalan, permit karantina) lengkap.

Saat Loading

  • Load sesuai kepadatan yang direkomendasikan.

  • Foto kondisi pra-loading & segel jika perlu.

  • Catat semua ID hewan & tandai di manifest.

Dalam Transit

  • Monitor hewan setiap 2–4 jam (bergantung species & kondisi).

  • Lakukan istirahat & refill sesuai jadwal.

  • Catat anomali dan tangani sesuai prosedur.

Saat Unloading

  • Lakukan pemeriksaan kondisi langsung.

  • Serahkan dokumentasi & dapatkan tanda terima.

  • Bersihkan kendaraan dan lakukan sanitasi.

Gunakan checklist ini sebagai SOP harian agar tidak ada langkah krusial yang terlewat.

16. Studi Kasus Singkat & Pembelajaran

Kasus A — Pengiriman sapi potong antar-provinsi

  • Problem: delay 12 jam karena jalan tertutup; hasil: 3 ekor mengalami heat stress dan 1 mati.

  • Solusi: revisi rute alternatif, tambah buffer waktu, dan perjanjian rest-stop darurat di beberapa lokasi. Setelah itu mortalitas turun 0% pada pengiriman lanjutan.

Kasus B — Kuda pameran jarak panjang

  • Problem: kuda gelisah, mengalami cedera saat unloading.

  • Solusi: gunakan trailer khusus berkuda, handler berpengalaman, dan latihan loading/unloading pre-shipment untuk kuda; hasil: stress menurun dan acara sukses.

Pembelajaran utama: perencanaan rute, kesiapan kendaraan, dan kompetensi kru sangat menentukan hasil.

17. Rekomendasi Implementasi & Roadmap Perbaikan

  1. Standardisasi SOP: buat manual pengiriman yang mencakup semua aspek dari pra-angkut sampai pasca-angkut.

  2. Pelatihan rutin: program training untuk handler dan driver.

  3. Audit & KPI: pantau mortalitas, insiden luka, on-time delivery, dan kepatuhan dokumen.

  4. Investasi kendaraan: update fleet dengan kendaraan yang memenuhi standar welfare.

  5. Kolaborasi dengan veteriner & otoritas: jalur komunikasi cepat untuk isu kesehatan selama perjalanan.

Langkah-langkah ini meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko kehilangan hewan.

18. Penutup — Kargo Darat Hewan Ternak yang Aman, Etis, & Legal

Pengiriman hewan ternak via darat bukan sekadar memindahkan barang — ini memindahkan makhluk hidup yang memerlukan perhatian, perlakuan etis, dan proteksi hukum. Kombinasi perencanaan matang, kendaraan sesuai standar, kepatuhan regulasi, pelatihan kru, dan dokumentasi lengkap adalah resep utama untuk pengiriman yang sukses.

Siap mengirimkan kargo Anda? Kirimkan melalui Hasta Buana Raya untuk solusi logistik yang andal dan aman!
👉 Hubungi 📱 +62-822-5840-1230 (WhatsApp/Telepon) untuk informasi lebih lanjut dan solusi pengiriman terbaik!