Multimoda dalam Pengiriman Barang

Pelajari tuntas multimoda: pengertian, perbedaan dengan intermodal, fungsi tiap moda (laut, darat, udara, kereta, sungai), perencanaan rute multimoda, manajemen kontrak dan dokumentasi, pengemasan & unitisasi, handling hub & transhipment, biaya & struktur tarif, risiko dan mitigasi, KPI operasional, serta langkah implementasi praktis

Digital Marketing

2/13/20265 min baca

a large amount of containers are stacked on top of each other
a large amount of containers are stacked on top of each other

Pendahuluan

Dalam dunia logistik yang semakin kompleks, satu moda transportasi jarang lagi memenuhi semua kebutuhan bisnis: kapal laut murah untuk muatan besar tetapi lambat; pesawat cepat namun mahal; kereta efisien untuk traksi darat tertentu; truk tak tergantikan untuk last-mile. Multimoda adalah jawaban pragmatis — menyusun rute yang memadukan beberapa moda agar total biaya, lead time, dan risiko menjadi optimal dalam Pengiriman Barang.

1. Apa itu multimoda — konsep sederhana dan perbedaannya dengan intermodal

Definisi singkat: Multimoda adalah pengiriman barang yang melibatkan dua moda transportasi atau lebih di bawah koordinasi terintegrasi—biasanya dengan satu pihak (operator multimoda) yang mengambil tanggung jawab end-to-end melalui satu kontrak (multimodal bill of lading).

Perbedaan kunci:

  • Multimoda sering memberi satu kontrak dan satu pihak bertanggung jawab; praktis untuk shipper yang ingin kepastian.

  • Intermodal bisa berupa kombinasi moda yang kontraknya terpisah per provider; koordinasi lebih kompleks bagi shipper.

Untuk bisnis, multimoda berarti: satu titik tanggung jawab, satu alur dokumen, tapi dibutuhkan kemampuan operator mengatur partner dan operasi multi-lokasi.

2. Mengapa multimoda sering lebih baik — manfaat praktis

  1. Optimasi biaya total: gunakan moda murah untuk trunk haul dan moda cepat untuk bagian kritis.

  2. Keseimbangan kecepatan vs biaya: Anda tidak perlu mengorbankan satu demi yang lain — rancang proporsinya.

  3. Ketahanan jaringan: punya alternatif rute bila satu moda terganggu.

  4. Efisiensi emisi: porsi rel/laut menurunkan jejak karbon per ton-km.

  5. Skalabilitas operasi: mudah menambah volume dengan memanfaatkan jaringan partner.

Namun multimoda bukan solusi otomatis: keberhasilan bergantung pada desain rute, unitisasi barang, sinkronisasi jadwal, dan kelincahan operasional.

3. Perencanaan rute multimoda — prinsip & trade-offs

Merancang rute multimoda adalah soal keputusan trade-off antara biaya, waktu, dan risiko.

Prinsip utama:

  • Bagi perjalanan menjadi legs (origin → trunk hub → transhipment → last-mile).

  • Pilih moda terbaik per leg: kapal/kereta untuk trunk, truk untuk first/last mile, udara untuk urgent legs.

  • Minimalisir dwell time di hub dengan slot booking dan SLA.

  • Unitisasikan barang (kontainer, palet, ULD) untuk mempermudah perpindahan.

  • Siapkan fallback plan: rute alternatif, opsi moda lain, dan klausa force majeure dalam kontrak.

Tips praktis: buat peta lane yang memuat lead time rata-rata dan cost per leg; pakai data historis untuk menetapkan buffer waktu yang realistis.

4. Unitisasi & pengemasan — mengurangi gesekan antar moda

Unitisasi adalah kunci kelancaran multimoda. Pengemasan salah = biaya, delay, kerusakan.

Aturan praktis:

  • Standarkan penggunaan kontainer 20’/40’ untuk laut, pallet untuk darat, dan ULD untuk udara jika perlu.

  • Pastikan packing tahan multiple lifts dan getaran dari handling di terminal.

  • Tetapkan label standar: nomor B/L, rute, handling marks (FRAGILE, THIS SIDE UP), dan barcode/QR untuk scan cepat.

  • Sertakan packing list per unit (electronic + physical copy).

Impak: satu pallet/box yang di-unitiskan dengan jelas mengurangi waktu stowage, meminimalkan kerusakan, dan memudahkan klaim bila terjadi.

5. Hub, terminal, dan transhipment — operasi di titik peralihan

Hubs (pelabuhan, dry port, rail terminal, inland depots) adalah titik kritis. Kecepatan dan koordinasi di sini menentukan keberhasilan multimoda.

Best practice operasi hub:

  • Gate automation (barcode/RFID + photo evidence).

  • Slot booking untuk mengurangi antre truck dan dwell time.

  • YMS/TOS terintegrasi dengan TMS utama untuk real-time visibility.

  • Tim handling terlatih dengan equipment sesuai (reachstacker, forklifts, gantry).

  • Area consol/short term storage untuk konsolidasi LCL → FCL atau re-palletizing.

KPI hub penting: dwell time, throughput per shift, on-connection rate (percent of legs connecting without delay).

6. Dokumentasi & kontrak — mengamankan tanggung jawab

Dokumen umum: multimodal bill of lading (MMBL), commercial invoice, packing list, manifest, sertifikat asal, dokumen customs/transit.

Hal penting pada kontrak multimoda:

  • Siapa bertanggung jawab atas latency setiap leg? (operator multimoda biasanya bertanggung end-to-end).

  • Klausul liability: definisikan coverage, limit, dan exclusions.

  • Demurrage/detention handling: siapa menanggung bila delay di pelabuhan?

  • Klausa force-majeure dan prosedur eskalasi.

Saran praktis: gunakan MMBL bila operator Anda benar-benar mengendalikan semua leg; bila kontrak terpisah per moda — pastikan flow of liability jelas dan insurer paham.

7. Model biaya & cara menghitung landed cost multimoda

Biaya multimoda lebih dari sekadar freight:

Komponen biaya:

  • Freight per leg (ocean/rail/truck/air).

  • Handling/transhipment charges di hub.

  • Storage/dwell charges (jika terjadi delay).

  • Insurance (marine/multimodal).

  • Customs duties & clearance fees (jika lintas negara).

  • Last-mile surcharge, fuel surcharge, special handling fees.

Metode perhitungan: hitung Total Landed Cost (TLC) per SKU atau per TEU: jumlah semua biaya (direct + indirect) dibagi jumlah unit. Ini alat keputusan paling realistis untuk memilih moda.

Contoh ringkas: jika ocean + rail + truck total cost = X per TEU, tapi lead time lebih longgar dibanding udara, hitung nilai waktu barang (cost of time) untuk melihat trade-off.

8. Risiko khas multimoda dan mitigasinya

Delay pada koneksi: menyebabkan cascading delays. Mitigasi: buffer time, SLA penalti partner, real-time monitoring.
Damage saat transhipment: multiple handling meningkatkan risiko. Mitigasi: packing yang kuat, certified rigging, QC pada handover.
Paperwork mismatch: salah HS code, invoice mismatch. Mitigasi: pre-arrival docs, EDI/API exchange, digital checklists.
Customs hold: bisa menahan seluruh chain. Mitigasi: pre-lodgement, trusted trader schemes, bonded transit routes.
Liability ambiguity: siapa bayar kalau barang hilang di antara legs? Mitigasi: clear MMBL, insurance, dan audit trail.

Kaji risiko per lane dan buat playbook respons untuk tiap skenario.

9. Teknologi yang mendukung (tanpa jargon berlebihan)

Teknologi tidak untuk pamer—ia untuk mengurangi gesekan.

Perangkat penting:

  • TMS (Transport Management System): untuk rencana rute, tendering, costing, dan visibility.

  • YMS/TOS/WMS: untuk kontrol hub, yard, dan warehouse.

  • Event feeds & EDI/API: notifikasi gate, departure, arrival agar trigger operational otomatis.

  • Mobile scanning & e-POD: mempercepat bukti pengiriman dan mengurangi paper handling.

  • Dashboard KPI real-time: memonitor on-time delivery, dwell time, serta cost per leg.

Implementasi dimulai dari integrasi data antar partner—bukan dari membeli alat termahal.

10. KPI utama untuk multimoda — apa yang mesti dipantau

  • On-time delivery (door-to-door) — indikator akhir layanan.

  • Dwell time di transhipment points — menandai efisiensi hub.

  • On-connection rate — % legs yang terhubung tanpa delay.

  • Damage incidence per 10.000 units.

  • Total landed cost per shipment / per SKU.

  • Container/ULD utilization rate.

Pantau per lane, per customer, dan per partner untuk menemukan bottleneck.

11. Studi kasus singkat (ilustratif)

Kasus A — Retail Asia → Regional: retail besar mengalihkan 60% volume import via multimoda: ocean → rail inland → truck last-mile. Hasil: biaya per unit turun 18% dan emisi CO₂ turun 24%, dengan lead time yang masih acceptable untuk produk non-seasonal.

Kasus B — Spare parts critical: manufacturer menggunakan kombinasi udara + road untuk stok regional; biaya lebih tinggi, tetapi downtime pabrik berkurang sehingga ROI positif.

Pelajaran utama: cocokkan strategi moda dengan nilai barang, urgensi, dan sensitivitas biaya.

12. Roadmap implementasi multimoda (langkah praktis)

  1. Analisis lane & volumes — pilih corridor dengan potensi penghematan.

  2. Pilot 1-2 lane — uji rute kecil, ukur KPI 60–90 hari.

  3. Bangun partner network — terminal, carrier, trucking partners yang andal.

  4. IT & dokumen flow — integrasi TMS + API / EDI, siapkan standar data elemen.

  5. Kontrak & insurance — MMBL atau per leg contract; tentukan liability & coverage.

  6. Scale & continuous improvement — refine routes, pricing, dan SLA berdasar KPI.

Mulai kecil, ukur hasil, lalu skala — formula yang terbukti.

13. Praktik terbaik & checklist operasional

Checklist singkat sebelum go-live:

  • Validasi volume dan frekuensi lane.

  • Confirm equipment & unit standards (kontainer/pallet/ULD).

  • Integrasi IT minimal (TMS ↔ partner event feed).

  • Clarify documentation flow & customs requirements.

  • Insurance check & define liability.

  • Pilot run & KPI baseline.

Tips tambahan: gunakan window cut-off & slot booking pada hub; atur SLA minimal dengan penalti untuk on-connection failure.

14. Sustainability & multimoda — peluang mengurangi emisi

Mengalihkan trunk haul ke kereta atau laut (ketimbang jalan/jarak panjang) menurunkan emisi. Kombinasikan:

  • Konsolidasi muatan untuk meningkatkan load factor.

  • Pilih slow steaming saat lead time memungkinkan.

  • Hitung jejak karbon (per shipment) untuk memberi opsi green premium ke klien.

Permintaan regulasi dan pembeli yang peduli lingkungan membuat multimoda juga menjadi diferensiasi kompetitif.

15. Kesimpulan

Multimoda adalah pendekatan cerdas untuk menyeimbangkan biaya, kecepatan, dan risiko pada rantai pasok modern. Keberhasilannya bergantung pada rancangan rute yang berbasis data, unitisasi yang benar, koordinasi efektif di hub, kontrak dan dokumen yang jelas, serta kemampuan digital untuk memantau dan men-trigger tindakan. Mulailah dari pilot terukur, ukur KPI inti, benahi proses, lalu scale.

Siap mengirimkan kargo Anda? Kirimkan melalui Hasta Buana Raya untuk solusi logistik yang andal dan aman!
👉 Hubungi 📱 +62 822-3300-4972 (WhatsApp/Telepon) untuk informasi lebih lanjut dan solusi pengiriman terbaik!