Mengenal Nesting ULD dalam Pengiriman Barang via Udara

Pelajari apa itu nesting ULD dalam pengiriman udara: definisi, tujuan, jenis ULD yang bisa dinest, prosedur penanganan, manfaat operasional dan biaya, batasan keselamatan, SOP lapangan, checklist, KPI, studi kasus, dan tips praktis agar operasional hangar/pallet yard Anda lebih efisien

Digital Marketing

1/28/20265 min baca

Pendahuluan — kenapa nesting ULD penting?

Di dunia kargo udara, ULD (Unit Load Device) adalah jantung penanganan—mulai dari palet dan kontainer kargo hingga konvensi kontainer khusus. Ketika ULD tidak sedang terisi (empty), mereka tetap membutuhkan ruang dan biaya. Nesting ULD adalah teknik penyimpanan ekonomis: menumpuk atau ‘menyelubungi’ ULD kosong satu ke dalam yang lain sehingga menghemat ruang yard/gudang, mempercepat handling, dan menurunkan biaya repositioning. Bagi airline, ground handler, dan depot, pengelolaan nesting yang baik berarti efisiensi ruang, penurunan biaya, dan pengurangan waktu persiapan untuk flight berikutnya dalam Pengiriman Barang.

1. Apa itu Nesting ULD? Definisi praktis

Nesting ULD adalah praktik menumpuk ULD kosong secara vertikal atau menyusun ULD kosong dengan saling masuk-memasuki sehingga satu unit menghemat ruang di dalam unit lain (serupa cara menumpuk gelas kertas). Tujuan utamanya adalah meminimalkan footprint area kosong (empty footprint) di depot, apron, atau gudang.

Nesting bisa diterapkan pada berbagai tipe ULD, khususnya those with tapered/curved walls yang dirancang untuk saling masuk. Contoh: beberapa jenis kontainer LD3, LD6, dan pallet nets yang memiliki desain nesting-friendly.

2. Jenis ULD yang Umumnya Bisa Dinest — dan yang Tidak

Tidak semua ULD dapat dinest. Berikut kelompok praktisnya:

Bisa dinest (umumnya)

  • LD3 (container wide-body kecil) dengan desain nesting — saat kosong sering bisa dimasukkan sebagian ke dalam LD3 lain.

  • LD6 atau LD7 yang memiliki desain standar dan tapered.

  • Pallet nets, Unitized pallets (dengan frame khusus) — bila disesuaikan untuk nesting.

  • Container plastik atau aluminium model tertentu yang memang didesain nesting untuk empty pooling.

Tidak cocok/berbahaya untuk nesting

  • ULD yang bermasalah struktur (penyok, retak, pintu rusak) — tidak boleh dinest karena merusak unit lain.

  • ULD dengan komponenen tetap (protruding fittings, attached rollers, protruding locks) yang bisa merusak unit di bawahnya.

  • Reefer container (unit berpendingin) biasanya tidak direkomendasikan untuk nesting kecuali produsen menyatakan aman—ada kabel dan komponen elektronik yang sensitif.

  • ULD yang memiliki seal, pallet straps, atau accessories yang menghalangi masuk ke unit lain.

Selalu merujuk ke manuals pabrikan ULD (manufacturer’s guidelines) dan airline ULD control untuk daftar tipe dan metode nesting yang diizinkan.

3. Manfaat Nesting ULD (operasional & komersial)

Ringkasan manfaat praktis:

  1. Penghematan Ruang — area yard / depot bisa menampung lebih banyak ULD kosong sehingga mengurangi kebutuhan sewa lahan.

  2. Pengurangan Biaya Repositioning — ketika unit terorganisir, pergerakan truk internal berkurang.

  3. Kecepatan Handling — pengambilan ULD kosong untuk reuse menjadi lebih cepat karena tersusun rapi.

  4. Perlindungan Unit — ULD yang tepat disusun dapat mengurangi risiko deformasi dibanding menumpuk secara acak.

  5. Pengurangan Risiko Safety — jika diterapkan SOP yang benar, nesting mengurangi tumpukan tidak stabil yang berbahaya.

  6. Efisiensi Inventaris — mempermudah counting, cycle count, dan pemetaan lokasi di sistem.

Manfaat ini langsung berkontribusi pada biaya OPEX depot dan kapasitas operasional.

4. Risiko & Pembatasan — apa yang harus diwaspadai

Walau menguntungkan, nesting juga punya risiko:

  • Kerusakan struktural: nesting yang salah (terlalu dalam/berbeban) dapat menimbulkan deformasi pada dinding ULD.

  • Kesalahan identifikasi: unit yang dinest sulit diinspeksi, menyebabkan miss maintenance.

  • Bahaya saat un-nesting: proses mengeluarkan ULD dapat memerlukan alat (forklift dengan attachments) dan risiko cedera bila tidak aman.

  • Illegal nesting: memaksa unit yang tidak kompatibel menyebabkan penggantian dan klaim.

Mitigasi: SOP, batas jumlah nesting per stack, inspeksi sebelum/ sesudah nesting, training operator, penggunaan tools dan attachments yang tepat.

5. Petunjuk Teknis: Cara Menesting ULD dengan Aman (step-by-step)

Berikut prosedur operasional praktik terbaik untuk depot/handler:

Persiapan & Verifikasi

  1. Identifikasi tipe ULD dan pastikan sesuai dengan daftar nesting-compatible.

  2. Inspect kondisi unit: pastikan tidak ada kerusakan, latch terbuka, atau accessories yang menghalangi.

  3. Bersihkan lokasi: area yard harus rata, bebas oli, dan ada buffer space di sekitarnya.

  4. Alat & Personel: gunakan forklift dengan fork spreader yang sesuai atau handler ULD khusus; operator harus bersertifikat.

Proses Nesting

  1. Set posisi unit penerima (base) di lokasi yang rata.

  2. Atur alignment: align ULD atas dengan panduan alignment marks bila ada.

  3. Turunkan perlahan: turunkan unit atas perlahan sampai bertengger aman; jangan menjatuhkan.

  4. Pastikan engagement: cek bahwa unit atas benar-benar ‘masuk’ ke dalam unit bawah tanpa ada hambatan.

  5. Catat posisi: update YMS/TMS dengan lokasi dan level nesting (mis. Stack #12, level 2).

Proses Un-nesting (mengeluarkan)

  1. Lepaskan secukupnya: pastikan area aman, semua personel di luar radius.

  2. Gunakan alat yang sesuai: spreader atau tali pengaman jika diperlukan.

  3. Angkat vertikal: jangan tarik miring untuk menghindari ghost-friction.

  4. Quick inspection: periksa apakah ada kerusakan baru akibat nesting.

Bukti & Dokumentasi

  • Foto sebelum dan sesudah nesting (timestamped).

  • Catatan teknis (WO) jika ada minor repair.

  • Update inventory system (nomor ULD, stack level).

6. Batasan Safety: berapa banyak level yang aman?

Tidak ada angka universal karena bergantung pada tipe ULD, kondisi material, dan rekomendasi pabrikan. Namun beberapa panduan praktis:

  • Untuk LD3/LD6/jenis ringan: biasanya safe untuk 2–3 level nesting, tergantung taper design.

  • ULD berbahan aluminium tipis: batasi pada 2 level.

  • Container plastik heavy-duty: bisa 3–4 level jika pabrikan menyetujui.

  • Reefer & units with attachments: sebaiknya tidak dinest, atau hanya 1 level dengan pengaman.

Selalu gunakan manual pabrikan dan sertakan Safety Factor (mis. jangan memenuhi limit desain). Jika ragu, konsultasikan technical support airline/ULD vendor.

7. Dampak pada Maintenance & Inspection

Nesting mempengaruhi rutinitas perawatan:

  • Inspeksi visual menjadi lebih sulit karena sebagian permukaan tertutup. Solusi: lakukan quick-un-nest inspection cycle untuk unit yang sudah lama dinest.

  • Cycle count harus memperhitungkan stacked levels agar tidak ada unit “terlupakan”.

  • Repair scheduling: prioritaskan un-nesting untuk unit yang membutuhkan maintenance.

Rekomendasi: lakukan monthly un-nest cycle untuk semua unit yang sudah minimal X minggu dinest.

8. Dokumentasi & Sistem: cara mencatat nesting di YMS/TMS

Integrasi data penting untuk visibility:

  • Catat Stack ID, Level Number, ULD Type, ULD ID, Date In Nest, Operator, Condition Remarks, dan Photo link.

  • Gunakan barcode/RFID pada ULD sehingga scanning saat nesting/un-nesting otomatis memperbarui sistem.

  • Buat alert jika unit sudah dinest melewati threshold waktu — memicu review atau preventive un-nest.

Digital recording memudahkan audit, KPI tracking, dan mengurangi human error.

9. KPI dan Metode Pengukuran Efektivitas Nesting

Untuk menilai keberhasilan program nesting, head to these KPIs:

  • Space Utilization Rate (%) — perbandingan kapasitas yard vs ULD stored (dinest vs non-nested).

  • ULD Retrieval Time — waktu rata-rata mengambil satu ULD dari stack.

  • Damage Rate per Nesting Event — frekuensi kerusakan yang diakibatkan nesting/un-nesting.

  • Turnaround of Empty ULD — waktu rata-rata antara entry empty to ready-for-use again.

  • Stack Stability Incidents — kejadian tumpukan bergeser atau insiden keselamatan.

Target improvement yang wajar: turunkan footprint empties 30–50% dalam 6–12 bulan, tapi jangan mengorbankan safety.

10. SOP Singkat: Nesting ULD (Template 1 Halaman)

Tujuan: Menyatukan praktik aman nesting ULD di depot.

  1. Verifikasi — operator cek tipe ULD & kondisi; pastikan kompatibilitas.

  2. Area — siapkan area rata & tandai Stack Zone.

  3. Peralatan & Personel — gunakan forklift/spreader; operator bersertifikat.

  4. Nesting — align, turunkan perlahan, cek engagement. Ambil foto.

  5. Document — update YMS: Stack ID, level, operator, kondisi.

  6. Un-nesting — ikuti prosedur aman; inspeksi setelah lepas.

  7. Audit — lakukan random inspection weekly; laporan ke manager depot.

Sertakan flow chart untuk visual.

11. Studi Kasus Singkat — Depot X: dari Chaos ke Tertata

Kondisi awal: Yard penuh dengan ULD kosong tersebar; retrieval memakan waktu lama; klaim minor meningkat.
Intervensi: Implementasi program nesting terstandar, pembagian Stack Zones, training operator, integrasi RFID.
Hasil (6 bulan): space digunakan 40% lebih efisien, retrieval time turun 35%, damage events turun 20%. Biaya repositioning ikut turun signifikan.

Pelajaran: kombinasi SOP + teknologi sederhana (barcode/RFID) cepat memberi ROI.

12. Checklist Singkat Sebelum Menesting (Praktis untuk Operator)

  • Tipe ULD kompatibel untuk nesting?

  • Kondisi ULD: pintu, latch, fittings OK?

  • Area stacking bersih & rata?

  • Alat & operator siap (sertifikat)?

  • Max level stacking sesuai manual?

  • Foto dokumentasi dilakukan?

  • Data diupdate di YMS/TMS?

Gunakan checklist ini setiap event nesting/un-nesting.

13. Tips Praktis & Best Practices

  • Standardize stack zones berdasarkan ULD type — jangan campur tipe yang berbeda di satu stack.

  • Implement color-coding atau marking untuk memudahkan visual sorting.

  • Limit nesting time: jangan biarkan ULD tertahan di stack lebih dari threshold tanpa inspection.

  • Sediakan attachments khusus (spreader plates) untuk mengangkat stack dalam group when moving.

  • Train operator dengan scenario-based drills (common jam/push out).

  • Partner with ULD vendor untuk training teknis & recommended stacking limits.

14. FAQ Singkat (Praktis)

Q: Apakah semua airline mengizinkan nesting ULD?
A: Sebagian besar airline mengizinkan untuk tipe tertentu dan sesuai pedoman pabrikan. Namun kebijakan tiap airline/depot bisa berbeda — selalu periksa manual ULD dan rule airline.

Q: Nesting apakah memengaruhi garansi/masa pakai ULD?
A: Jika dilakukan melebihi spesifikasi pabrikan (beban, level), ada risiko mengurangi masa pakai. Patuh pada limit pabrikan untuk menjaga garansi.

Q: Bagaimana jika ULD yang dinest terkena cuaca ekstrem?
A: Pastikan stack zone punya drainage dan proteksi cuaca; beberapa material lebih tahan terhadap kelembapan, namun inspeksi rutin tetap penting.

15. Penutup — ringkasan & langkah aksi

Nesting ULD adalah teknik sederhana namun berdampak besar untuk menghemat ruang dan biaya di operasi kargo udara — asalkan dilakukan dengan disiplin. Kuncinya: pahami tipe ULD, ikuti petunjuk pabrikan, terapkan SOP ketat, latih operator, dan catat setiap event di sistem. Dengan kombinasi praktek aman dan integrasi data, nesting mampu menjadi alat strategis bagi airline, ground handler, dan depot untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Siap mengirimkan kargo Anda? Kirimkan melalui Hasta Buana Raya untuk solusi logistik yang andal dan aman!
👉 Hubungi 📱 +62-822-5840-1230 (WhatsApp/Telepon) untuk informasi lebih lanjut dan solusi pengiriman terbaik!