Mengenal FTL dan LTL dalam Pengiriman Barang via Darat

Pahami perbedaan FTL (Full Truck Load) dan LTL (Less Than Truckload) untuk pengiriman darat: definisi, keunggulan & kelemahan, cara perhitungan biaya, strategi packing, routing, dokumen, SLA, manajemen klaim, KPI operasional, studi kasus praktis, serta checklist dan template yang siap dipakai oleh shipper, forwarder, atau operator logistik.

Digital Marketing

1/19/20266 min baca

Forklift loading bricks onto a truck outdoors
Forklift loading bricks onto a truck outdoors

Pengantar singkat — Mengapa Topik Ini Penting?

Dalam logistik darat, memilih antara FTL dan LTL bukan sekadar soal ukuran barang — keputusan ini memengaruhi biaya, waktu pengiriman, risiko kerusakan, dan pengalaman pelanggan. Untuk bisnis yang ingin mengoptimalkan biaya sambil menjaga layanan, memahami mekanisme, trade-off, dan best practice FTL vs LTL adalah keharusan. Panduan ini ditulis agar bisa langsung dipraktekkan: bukan hanya teori, tetapi langkah operasional, contoh perhitungan, dan checklist dalam Pengiriman Barang.

1. Definisi dan Gambaran Umum

FTL (Full Truck Load)
Pengiriman di mana satu unit kendaraan (truk, kontainer truk) digunakan penuh untuk satu pengirim saja. Pengirim memesan seluruh ruang angkut sehingga muatan tidak dicampur dengan load dari shipper lain. Cocok untuk pengiriman besar, pallet banyak, atau barang yang membutuhkan keamanan dan waktu transit singkat.

LTL (Less Than Truckload)
Pengiriman di mana satu kendaraan membawa konsolidasi muatan dari beberapa shipper—setiap pengirim menyewa sebagian ruang saja. Sistem ini ideal untuk kiriman yang lebih kecil dari kapasitas penuh truk (mis. 1–12 pallet tergantung standar). LTL menurunkan biaya per pengirim karena sharing cost, tapi menambah titik bongkar/muat dan kompleksitas handling.

2. Perbedaan Inti: Biaya, Waktu, Risiko

  • Biaya per kiriman:

    • FTL: tarif total lebih tinggi, tetapi biaya per unit (per pallet/ton) cenderung lebih rendah untuk volume besar.

    • LTL: tarif lebih murah untuk kiriman kecil karena sharing; namun ada biaya handling dan terminal fees.

  • Lead time (waktu):

    • FTL: biasanya lebih cepat—langsung dari origin ke destination tanpa transit hub.

    • LTL: lebih lambat karena consolidation, multiple stops, dan hub handling.

  • Risiko kerusakan & kehilangan:

    • FTL: lebih rendah (muatan tunggal, sedikit handling).

    • LTL: lebih tinggi karena double handling, pemisahan/penyortiran di hub.

  • Fleksibilitas rute:

    • FTL: fleksibel terhadap jadwal shipper, cocok untuk jadwal kilat dan jutaan kg.

    • LTL: butuh routing plan dan manifest konsolidasi.

  • Dokumentasi & penagihan:

    • FTL: sederhana—1 surat jalan, 1 POD.

    • LTL: lebih kompleks—multiple bills, reconciliation, fragmentasi POD.

3. Kapan Memilih FTL vs Kapan Memilih LTL — Panduan Praktis

Pilih FTL jika:

  • Muatan hampir atau mencapai kapasitas truk (mis. >12–15 pallet bergantung standar operator).

  • Pengiriman urgent dengan kebutuhan door-to-door cepat.

  • Barang bernilai tinggi atau sensitif (pharma, elektronik).

  • Ingin menghindari double handling dan klaim.

  • Ada kebutuhan mutu handling khusus (reefer, hazmat, oversize).

Pilih LTL jika:

  • Volume kecil, tidak ekonomis menyewa seluruh truk.

  • Biaya lebih sensitif daripada lead time.

  • Pengiriman non-urgent dengan jadwal lebih longgar.

  • Ada kemampuan untuk menerima potensi handling tambahan dan asuransi yang memadai.

4. Struktur Tarif & Cara Perhitungan

FTL — Struktur Tarif Biasa

  • Linehaul rate: tarif dasar per kilometer/route (flat atau per km).

  • Accessorial charges: biaya ekstra (tail-lift, tarp, permit oversize, waiting time, detention).

  • Fuel surcharge: persentase terhadap tarif dasar (berubah-ubah).

  • Minimum charge: biasanya ada minimal revenue per trip.

Contoh perhitungan FTL (sederhana):
Tarif dasar rute Jakarta–Surabaya: Rp 8.000/km × 800 km = Rp 6.400.000
Fuel surcharge 10% = Rp 640.000
Accessorial (tail-lift) = Rp 350.000
Total = Rp 7.390.000

Kalkulasi per pallet: bila truk muat 20 pallet, biaya per pallet ≈ Rp 369.500.

LTL — Struktur Tarif Biasa

  • Freight class / band weight: tarif dihitung berdasarkan berat atau dim weight per pallet/consignment.

  • Terminal handling charge (THC): biaya bongkar/muat di hub.

  • Linehaul per consolidation: share of route cost allocated by weight/space.

  • Minimum & pallet charge: nominal per pallet.

  • Accessorials: pickup/delivery inside delivery, residential, appointment.

Contoh perhitungan LTL (sederhana):
Kiriman 2 pallet (gross 500 kg each) rute Jabodetabek: base rate/pallet Rp 200.000 + THC Rp 50.000 + fuel surcharge 8% + delivery inside fee Rp 75.000
Per pallet gross ≈ Rp 200k + 50k + (8% × 250k = 20k) + 75k = Rp 345k.

Kunci LTL adalah cost allocation—operator membagi total route cost ke shipper berdasarkan weight/volume or agreed tariff matrix.

5. Packing, Palletizing, dan Unitization — Praktik Terbaik untuk Mengurangi Risiko

FTL:

  • Pallet kuat, dunnage memadai, forbidden items clearly segregated.

  • Gunakan blocking & bracing untuk muatan long/oversize.

  • Seal container/trailer jika perlu (seal number captured).

LTL:

  • Standardized pallet sizes (120×100 cm) untuk memudahkan stacking.

  • Corner protectors, stretch wrap, strapping wajib.

  • Clear labeling (consignee, address, contact, handling instructions).

  • Mixed goods: jangan campur barang incompatibles (chemicals vs food).

Packing protocols mengurangi claims dan mempercepat sortation di hub LTL.

6. Rute, Jadwal, dan Kapasitas Operasional

FTL Operations:

  • Direct haul scheduling: book truck, tentukan ETA, driver assigned.

  • Truck types: dry van, reefer, flatbed, low-bed, box truck; pilih sesuai muatan.

  • Permits: oversize/overweight require permits and sometimes police escort.

LTL Operations:

  • Hub & spoke model: inbound pickups → consolidation hub → linehaul → sorting hub → local delivery.

  • Cut-off times and consolidation windows penting: shipper harus adhere to pickup windows.

  • Load planning: cubic optimization & pallet arrangement critical to minimize wasted space.

7. Layanan Value-Added & Accessorials (FIT IN PRACTICE)

Beberapa layanan sering ditawarkan dan harganya berdampak pada keputusan FTL/LTL:

  • Tail-lift / Liftgate: diperlukan jika penerima tidak punya forklift.

  • Inside delivery / pickup: masuk ke bangunan; biaya naik.

  • Appointment delivery: jadwal yang harus di-book sebelumnya (warehouse slot).

  • Protective services: white glove, unboxing, installation (umumnya FTL, bisa LTL add-on).

  • Hazmat handling: specialized handling & documentation.

Shipper harus mengerti accessorial list dan biaya per layanan.

8. Dokumen, Legalitas & Asuransi

Dokumen dasar:

  • Surat Jalan / Consignment Note (CMR untuk cross-border road in some regions).

  • Packing list, Commercial Invoice (for cross-border), Permit (oversize, hazmat), SIM/driver docs.

  • Proof of Delivery (POD) — signature + timestamp + ePOD photo.

Asuransi:

  • FTL biasanya lebih mudah klaim karena muatan tunggal; LTL memerlukan pembuktian packaging & terminal handling.

  • Pastikan declared value dan deductible (excess) diketahui.

  • Pilih polis yang sesuai: all-risk vs named peril.

9. KPI & Performance Metrics yang Perlu Dipantau

Untuk operator/shippers, KPI berikut wajib dilacak:

  • On-time pickup/delivery rate (OTP/OTD).

  • Claims per 1.000 shipments (damage, shortage).

  • Cost per ton/km (FTL) dan cost per pallet (LTL).

  • Trailer utilization / cubic utilization.

  • Turnaround time in hub (for LTL).

  • Average dwell time — di origin hub & destination hub.

  • Load acceptance rate (for capacity planning).

Monitoring KPI membantu mengevaluasi ketika FTL lebih efisien daripada LTL atau sebaliknya.

10. Studi Kasus Singkat — Ilustrasi Pengambilan Keputusan

Studi Kasus A — Retaile r E-commerce (daily small orders)
Volume: banyak order 1–2 pallet per day ke berbagai daerah.
Keputusan: konsolidasi LTL ke regional hub, pakai micro-fulfillment & last-mile courier untuk delivery.
Alasan: biaya per pallet jauh lebih rendah dan fleksibilitas pengiriman kecil lebih cocok.

Studi Kasus B — Produsen Mesin (monthly parts shipment)
Volume: 40 pallet per bulan ke satu pelanggan besar.
Keputusan: FTL regular contract weekly.
Alasan: predictable volume, perlu handling khusus, lebih aman & cepat; biaya per pallet lebih murah.

11. Risk Management & Klaim — Praktik Preventif

Untuk FTL:

  • Foto pre-load dan post-load, seal number.

  • Bill of Lading signed, driver log.

  • SOP emergency for accidents.

Untuk LTL:

  • Packing standar, labeling, manifest reconciliation.

  • Insurance: ensure declared value & coverage includes handling at terminals.

  • Random audit of hub handling; insist on CCTV evidence for high-value shipments.

Klaim process: immediate SOF (Statement of Facts), photo evidence, POD, surveyor if necessary, submission to insurer and carrier with timeline adherence.

12. Contracting & Negotiation Tips

FTL Contracts:

  • Negotiate minimum monthly volume for discount.

  • Include fuel surcharge formulas and detention/demurrage caps.

  • Define liability and insurance responsibilities in service agreement.

LTL Contracts:

  • Agree tariff matrix by weight band and zones.

  • Clarify THC, delivery appointment fees, and liability limits per package.

  • Set performance KPIs and penalty clauses (OTD service levels).

Always monitor market (fuel, labor) and renegotiate periodically.

13. Teknologi Pendukung (Singkat & Praktis)

Teknologi yang membantu optimasi FTL/LTL tanpa menyebut istilah tertentu yang tidak diinginkan:

  • TMS (Transport Management System): routing, tendering, rate management.

  • WMS + mobile scanning: meningkatkan akurasi load dan pick.

  • ePOD & proof-of-delivery foto: mempercepat billing & klaim.

  • Load planning / cubic optimization tools: memaksimalkan utilisasi trailer/ULD.

  • Portal tracking untuk customers: transparansi ETA & exceptions.

Integrasi sistem mengurangi lead time admin dan meminimalkan human error.

14. Sustainability & Efisiensi Energi

  • FTL: efisiensi fuel per ton lebih tinggi jika truk penuh; prioritaskan rute backlog optimization.

  • LTL: lebih efisien bila konsolidasi rute regional mencegah multiple small trucks.

  • Optimalisasi rute dan backhaul planning menurunkan empty runs.

  • Green initiatives: gunakan truk Euro 6, biofuel, atau plan modal pooled trucking untuk menurunkan emisi.

15. Checklist Operasional untuk Shipper (Praktis)

Sebelum Booking:

  • Verifikasi volume total (kg/pallet) & dimensi.

  • Tentukan apakah FTL atau LTL berdasarkan volume, urgency, dan handling.

  • Siapkan dokumen (surat jalan, packing list, invoice jika cross-border).

  • Tentukan layanan tambahan (tail-lift, appointment, inside delivery).

Sebelum Load (FTL):

  • Foto barang di gudang (pre-load).

  • Pastikan pallet tertata & stretch wrap.

  • Catat seal number & foto.

Untuk LTL:

  • Label per pallet jelas.

  • Pastikan packaging tahan handling hub.

  • Sertakan shippers reference & contact di label.

Setelah Delivery:

  • Konfirmasi POD & simpan digital copy.

  • Rekonsiliasi invoice vs agreed tariff.

  • Catat exceptions & ajukan klaim bila perlu.

16. Penutup & Langkah Selanjutnya

FTL dan LTL masing-masing punya tempat di strategi logistik darat: FTL unggul pada kecepatan, keamanan, dan kepastian; LTL unggul pada efisiensi biaya untuk kiriman kecil dan fleksibilitas. Pilihan terbaik bergantung pada kombinasi volume, urgency, risiko, dan total landed cost. Kunci optimalisasi adalah data: pantau KPI, gunakan TMS untuk routing & tendering, dan terapkan standar packing yang kuat.

Siap mengirimkan kargo Anda? Kirimkan melalui Hasta Buana Raya untuk solusi logistik yang andal dan aman!
👉 Hubungi 📱 +62-822-5840-1230 (WhatsApp/Telepon) untuk informasi lebih lanjut dan solusi pengiriman terbaik!