Memahami Harmonized System (HS) Code dalam Pengiriman Barang via Udara
Pelajari seluk-beluk HS Code (Harmonized System) untuk pengiriman udara: definisi, struktur kode, cara klasifikasi, pengaruh terhadap bea & pajak, peran dalam kepabeanan dan kepatuhan, contoh kasus, kesalahan umum, serta checklist praktis untuk eksportir, freight forwarder, dan operator kargo udara. Panduan lengkap ini ditulis praktis agar bisa langsung diterapkan dalam operasi pengiriman barang.
Digital Marketing
1/10/20267 min baca
Pengantar — Mengapa HS Code Penting untuk Pengiriman Melalui Udara?
Harmonized System (HS) Code — sering disebut kode HS — adalah bahasa universal perdagangan internasional. Di setiap pengiriman barang lintas batas, termasuk kargo udara, kode ini dipakai untuk menjelaskan apa yang diangkut: apakah elektronik, pakaian, suku cadang mesin, atau barang berbahaya. Kode HS memengaruhi rata-rata hampir semua proses administratif dan komersial: perhitungan bea masuk dan pajak, persyaratan izin, statistik perdagangan, serta aplikasi preferensi tarif (mis. perjanjian perdagangan bebas).
Kalau HS Code salah atau tidak konsisten, akibatnya bisa serius: penahanan barang oleh bea cukai, denda, pembengkakan biaya — atau klaim yang rumit ketika muncul sengketa. Artikel ini menyajikan panduan menyeluruh dan praktis tentang HS Code, fokus pada konteks pengiriman via udara: bagaimana memilih kode yang benar, praktik terbaik, contoh konkret, dan langkah-langkah untuk mengurangi risiko administrasi dalam Pengiriman Barang.
Ringkasan Inti (Quick Takeaways)
HS Code adalah sistem klasifikasi barang internasional yang digunakan oleh hampir semua negara — terdiri dari 6 digit dasar (yang dapat diperluas oleh nomenklatur nasional menjadi 8 atau 10 digit).
Untuk pengiriman udara, HS Code wajib ada pada dokumen ekspor/impor — AWB, commercial invoice, packing list, dan dokumen kepabeanan.
Klasifikasi dilakukan berdasarkan deskripsi barang, bahan utama, fungsi, dan penggunaan akhir. Dokumen pendukung (foto, spesifikasi teknis) membantu pembuktian.
Salah memilih kode menyebabkan delay, bea tak terduga, dan potensi denda. Selalu dokumentasikan alasan klasifikasi dan simpan bukti.
Gunakan broker/eksper/HS lookup resmi saat ragu; buat SOP internal dan pelatihan untuk tim operasional.
1. Apa Itu Harmonized System (HS) Code?
Harmonized System (HS) adalah sistem kode internasional yang dikembangkan oleh World Customs Organization (WCO). Tujuannya: menstandarisasi klasifikasi barang yang diperdagangkan antarnegara sehingga semua pihak — bea cukai, statistik, bank, dan pelaku bisnis — berbicara “bahasa” yang sama.
Struktur dasar HS:
2 digit (Chapter) — kelompok besar barang (mis. 85 = electrical machinery).
4 digit (Heading) — subdivisi lebih spesifik dalam chapter.
6 digit (Subheading) — level internasional yang wajib seragam antarnegara (mis. 8528.72 = televisi color? contoh ilustratif).
Tambahan nasional (8–10 digit atau lebih) — setiap negara dapat menambahkan digit untuk tarif nasional, statistik, atau aturan preferensi.
Contoh format: 85.27.11.00 — di mana 85 chapter, 27 heading, 11 subheading internasional, 00 tambahan nasional (ilustratif).
2. Bagaimana HS Code Memengaruhi Pengiriman Udara?
HS Code berperan dalam banyak aspek operasi pengiriman udara:
2.1 Perhitungan Bea Masuk & Pajak
Customs menghitung tarif impor berdasarkan HS Code. Barang dengan HS Code berbeda memiliki tarif yang berbeda pula; beberapa barang mendapat pembebasan atau tarif preferensi, yang memerlukan kualifikasi asal barang (rules of origin).
2.2 Persyaratan Perizinan & Pembatasan
Barang tertentu (mis. elektronik frekuensi, obat, kimia, makanan) memerlukan lisensi impor, sertifikat kesehatan, atau dokumentasi khusus. HS Code membantu bea cukai dan instansi lain cepat mengidentifikasi apakah persyaratan khusus berlaku.
2.3 Penentuan Regulasi Bahaya (Dangerous Goods)
Walaupun klasifikasi DG mengikuti aturan terpisah (IATA DGR), HS Code dapat membantu menentukan apakah barang termasuk bahan kimia atau zat berbahaya yang membutuhkan perlakuan khusus.
2.4 Statistik & Kepatuhan Perdagangan
HS Code dipakai untuk statistik ekspor-impor. Perusahaan yang sering salah klasifikasi berisiko menyajikan data yang keliru dan menghadapi pemeriksaan.
2.5 Dokumen Perbankan & Asuransi
Bank dan asuransi mengandalkan HS Code dalam dokumen letter of credit dan polis asuransi untuk konfirmasi isi kargo.
3. Prinsip Dasar Klasifikasi HS — Cara Menentukan Kode yang Benar
Klasifikasi harus mengikuti aturan umum WCO (General Rules for the Interpretation of the Harmonized System — GRIs). Prinsip praktis:
Langkah 1 — Definisikan Barang Secara Lengkap
Deskripsi wajib mendetail: bahan utama, fungsi, kondisi (baru/used), bagian (component vs finished good), dan penggunaan akhir. Foto & spesifikasi teknis sangat berguna.
Langkah 2 — Analisis Dasar: Material vs Fungsi
Jika barang terbuat dari berbagai bahan, identifikasi materi utama (material which gives the product its essential character). Contoh: sebuah jam tangan dengan strap kulit (leather strap) dan case stainless steel — klasifikasi dapat bergantung pada aturan gabungan barang tersebut.
Langkah 3 — Periksa Headings dan Notes
Baca catatan di tiap chapter/heading: catatan ini menentukan apakah barang itu khusus masuk ke heading tertentu. Notes (General and Section notes) dapat mengubah klasifikasi.
Langkah 4 — Gunakan GRI
General Rules for Interpretation (GRI) adalah urutan aturan saat memilih kode:
GRI 1: Baca teks heading & subheading secara literal.
GRI 2: Jika barang dapat diklasifikasikan pada lebih dari satu heading, pakai aturan GRI 3 dan 4.
GRI 3: Untuk barang gabungan / unassembled, cek aturan khusus tentang "mixtures" atau "composite goods".
GRI 4: Untuk barang yang tidak termuat pada GRI 1–3, apply heading residual yang paling relevan.
Langkah 5 — Dokumentasikan Alasan Klasifikasi
Simpan memo klasifikasi: deskripsi barang, referensi GRI, dokumen pendukung. Ini akan mempercepat proses jika ada audit atau sengketa.
4. Contoh Kasus Klasifikasi: Ilustrasi Praktis
Berikut beberapa ilustrasi untuk membantu pemahaman.
Contoh A — Smartphone
Deskripsi: handset ponsel, layar touchscreen, battery tertanam, fungsi telekomunikasi utama.
Analisis: barang elektronik telekomunikasi sering masuk ke heading di chapter 85 (electrical machinery). Subheading akan mengidentifikasi handsets for cellular networks.
Contoh B — Bagian Mesin (Spare Part)
Deskripsi: poros rotor untuk mesin pesawat, komponen logam.
Analisis: spare part classification tergantung apakah part tersebut khusus dirancang untuk mesin tertentu—ada aturan bahwa spare parts for machinery are classifiable with main machine jika memenuhi syarat.
Contoh C — Pakaian dengan Aksesoris
Deskripsi: jaket dengan kancing logam dan lapisan sintetis.
Analisis: pakaian masuk ke chapter 61–63; material utama (e.g. textile) menentukan heading. Jika uncertain, cek section notes re garments.
Catatan: contoh di atas bersifat ilustratif; pengguna wajib merujuk ke tarif nasional untuk angka tepat.
5. Perbedaan Kode Internasional (6 digit) dan Kode Nasional (8/10 digit)
HS 6 digit adalah standar internasional. Negara menambahkan digit untuk tujuan tarif & statistik:
6 digit: sama di seluruh dunia; menunjuk subheading internasional.
8–10 digit: tambahan nasional; menentukan tarip nasional atau detail statistik di tiap negara.
Contoh: 8525.80 (6 digit). Di negara A bisa menjadi 8525.80.10.00 sedangkan di negara B 8525.80.90 — angka ini menentukan tarif spesifik.
Untuk ekspor impor, selalu gunakan kode sesuai format negara tujuan/impor dan pastikan billing/invoice memakai kode yang diakui oleh sistem bea cukai setempat.
6. HS Code dan Preferensi Tarif (FTA / PTA)
Jika negara pengimpor memiliki perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan negara pengirim, barang dapat memperoleh tarif preferensi (turun atau nol tarif) bila memenuhi rules of origin. HS Code memudahkan identifikasi, tetapi origin criteria (mis. substantial transformation atau value added rule) adalah kunci. Dokumen asal seperti Certificate of Origin perlu dilengkapi untuk klaim preferensi.
Langkah praktis:
Tentukan HS Code untuk produk akhir.
Periksa rules of origin dalam FTA terkait: apakah cukup local value added atau perubahan chapter?
Siapkan dokumen pendukung: CO, packing list, invoices, dan dokumen produksi.
7. HS Code untuk Barang Khusus yang Sering Dikirim via Udara
Beberapa kategori sering menimbulkan kebingungan:
7.1 Barang Elektronik (laptop, smartphone, parts)
Penting menunjukkan apakah unit untuk konsumen akhir atau spare part industri karena tarif dan persyaratan lisensi berbeda.
7.2 Produk Farmasi dan Biologi
Memerlukan sertifikat kesehatan, izin impor, serta ketentuan suhu. HS Code membantu bea cukai mengidentifikasi apakah ada pembatasan impor.
7.3 Bahan Kimia & Chemical Precursors
Banyak bahan kimia masuk daftar kontrol; HS Code harus akurat agar aturan keselamatan dan izin dipenuhi.
7.4 Sampel Komersial / Dokumentasi Non-Commercial
HS Code sering 9901 seperti negara punya nomenklatur khusus untuk sampel gratis; cek peraturan lokal.
7.5 Barang Bekas / Refurbished
Dapat dikenakan tarif berbeda dari barang baru; deklarasikan kondisi kargo.
8. Kesalahan Umum dalam Penetapan HS dan Dampaknya
Kesalahan populer yang menyebabkan masalah:
8.1 Deskripsi terlalu umum
Menulis hanya “spare parts” atau “electronics” tanpa rincian menyebabkan bea cukai meminta klarifikasi — delay.
8.2 Mengcopy HS Code dari listing online tanpa verifikasi
Database publik terkadang salah. Selalu cross-check dengan sumber resmi atau konsultan kepabeanan.
8.3 Menggunakan HS Code negara asal tanpa menyesuaikan kode nasional tujuan
Perbedaan digit di level nasional dapat menyebabkan mismatch dan penalti.
8.4 Tidak menyertakan bukti pendukung
Tanpa spesifikasi teknis, foto, atau sertifikat, bea cukai cenderung menahan barang sampai klasifikasi dikonfirmasi.
Dampak: hold at customs, demurrage, duty recalculation leading to unexpected cost, penalties.
9. Proses Praktis untuk Penentuan HS Code di Perusahaan (SOP Singkat)
Berikut SOP praktis agar klasifikasi konsisten:
Dokumen awal: saat PO diterima, mintalah supplier mengirim technical datasheet, foto close-up, dan packaging list.
Klasifikasi awal: tim compliance/HS lookup assign tentative HS (6 digit) berdasar GRIs.
Verifikasi internal: cross-check dengan internal master data dan previous rulings.
Jika ragu, minta binding ruling: ajukan permintaan klasifikasi tertulis kepada otoritas bea cukai untuk kepastian resmi (binding ruling).
Dokumentasi: simpan memo klasifikasi berisi alasan (GRI references, fotos, datasheet).
Implementasi: tulis HS di commercial invoice, AWB, dan sistem ERP/WMS.
Audit berkala: periodic review untuk update kode bila ada perubahan produk atau regulasi.
10. Binding Rulings dan Advance Classification — Bila Perlu Kepastian
Jika bisnis Anda sering mengekspor/imporn barang yang sulit diklasifikasikan, pertimbangkan permohonan binding ruling kepada bea cukai setempat. Ini dokumen resmi yang menentukan kode HS untuk produk Anda dan mengikat pihak berwenang selama masa berlaku. Kelebihan: mengurangi risiko sengketa dan biaya tak terduga. Kelemahan: proses administrasi dan waktu tunggu.
11. Tools & Sumber yang Bisa Digunakan
Praktiskan kombinasi sumber berikut:
Database tariff resmi negara impor (online portal bea cukai).
WCO HS Nomenclature (untuk referensi chapter dan notes).
Database tarif & regulations dari penyedia komersial (dengan catatan cross-check).
Konsultan kepabeanan / customs broker untuk kasus complex.
Binding ruling database (beberapa negara mempublikasikan keputusan sebelumnya).
Internal product master (ERP) dengan field HS & supporting docs.
Catatan: hindari menaruh beban klasifikasi hanya pada satu orang — lakukan cross-functional review.
12. Studi Kasus (Ilustratif) — Kesalahan HS dan Konsekuensi Nyata
Kasus 1 — Komponen Elektronik Salah Diklasifikasikan
Sebuah perusahaan mengirim modul elektronik yang ternyata masuk kategori spare part specialised dan seharusnya mendapat tarif preferensi setelah verifikasi asal. Karena salah kode, importir membayar tarif penuh dan terlambat mengklaim refund — cashflow terganggu.
Solusi: minta binding ruling untuk modul tersebut; review SOP supplier info.
Kasus 2 — Pakaian Masuk Kode Salah (New vs Used)
Perusahaan mendeklarasikan barang bekas sebagai baru dengan kode berbeda. Bea cukai menahan shipment, melakukan pemeriksaan fisik, dan mengenakan denda administrasi.
Solusi: konsistensi dokumentasi kondisi barang dan pencatatan yang benar.
13. Checklist Praktis untuk Pengiriman Udara (Pre-Shipment HS Control)
Gunakan checklist ini pada tahap booking dan ekspor:
Pastikan commercial invoice memuat HS Code 6 digit dan tambahan nasional jika diperlukan.
Sertakan deskripsi barang lengkap: material, fungsi, komponen, negara pembuat.
Lampirkan datasheet, foto, dan sertifikat relevan (safety, health, origin).
Cross-check HS Code dengan tariff portal negara tujuan.
Jika menggunakan preferensi tarif, siapkan Certificate of Origin dan bukti origin calculation.
Jika barang terindikasi regulasi khusus, siapkan license/permit sebelum pengapalan.
Simpan memo klasifikasi & referensi hukum internal untuk 5+ tahun.
Koordinasikan dengan freight forwarder dan customs broker agar AWB & manifest sinkron.
14. Tips Praktis & Best Practices untuk Eksportir & Forwarder
Jangan menebak: jika ragu, minta bantuan broker atau pihak bea cukai.
Automasi: integrasikan HS fields ke ERP/WMS sehingga invoice/AWB otomatis mengisi kode.
Cross functional: baik sales, purchasing, dan compliance harus berbagi info produk.
Pelatihan rutin: update tim tentang perubahan nomenklatur dan tarif.
Simpan bukti: foto produk di tiap batch produksi memudahkan pembuktian klasifikasi di kemudian hari.
Menggunakan ruling: pada produk bernilai tinggi atau yang sering bermasalah, gunakan binding ruling.
15. FAQ Singkat (Pertanyaan Umum)
Q: Apakah satu produk selalu punya satu HS Code?
A: Tidak selalu. Beberapa produk kompleks dapat diklasifikasikan berbeda tergantung bahan, fungsi, atau kondisi. Namun harus ada satu kode yang paling tepat berdasar GRIs.
Q: Siapa yang bertanggung jawab menentukan HS Code?
A: Pada umumnya shipper/pengirim bertanggung jawab mencantumkan HS Code pada dokumen perdagangan. Namun authority bea cukai bisa melakukan verifikasi dan memutuskan kode yang benar saat impor.
Q: Berapa lama perlu menyimpan dokumentasi HS?
A: Idealnya sesuai aturan fiskal dan kepabeanan nasional, biasanya 5–7 tahun.
16. Penutup — HS Code: Investasi Kecermatan yang Mengurangi Risiko
HS Code mungkin terlihat hanya deretan angka, tetapi dibaliknya tersimpan implikasi besar terhadap biaya, kepatuhan, dan kecepatan alur logistik udara. Bisnis yang serius pada perdagangan internasional harus memperlakukan klasifikasi HS sebagai proses terintegrasi: dokumentasi lengkap di awal, SOP internal, tools teruji, dan jika perlu dukungan resmi (binding ruling). Dengan pola kerja yang sistematis, Anda mengurangi risiko cost surprises, administrasi berulang, dan gangguan operasional.
Siap mengirimkan kargo Anda? Kirimkan melalui Hasta Buana Raya untuk solusi logistik yang andal dan aman!
👉 Hubungi 📱 +62-822-5840-1230 (WhatsApp/Telepon) untuk informasi lebih lanjut dan solusi pengiriman terbaik!
Kami menyediakan layanan pengiriman yang aman, nyaman, dan terjangkau dari seluruh Indonesia. Layanan prioritas kami meliputi:
Pengiriman barang melalui udara (Pesawat Kargo, Sewa, dan Penerbangan Khusus)
Metode Pengiriman yang berbeda (Bandara ke Bandara , Gudang ke Gudang , dan Bandara ke Gudang)
Gudang dan Distribusi
Kontak
Bantuan
+62 822-3300-4972 (CS 1)
© 2024. Semua hak cipta dilindungi.


+62-811-9778-889
+62 822-3300-4973 (CS 2)
