Memahami Dwell Time dalam Pengiriman Barang via Laut
Pelajari secara mendalam apa itu dwell time pada pengiriman laut: definisi, penyebab, cara pengukuran, dampak biaya dan operasional, rumus perhitungan serta contoh perhitungan nyata, strategi mitigasi, peran tiap pemangku kepentingan (shipper, forwarder, carrier, terminal, customs), KPI yang relevan, checklist operasional, serta template notifikasi dan SOP yang bisa langsung diterapkan oleh tim logistik
Digital Marketing
1/22/20269 min baca
Pengantar — Mengapa Dwell Time Penting?
Dwell time adalah salah satu metrik operasional yang paling krusial dalam rantai pasok laut. Singkatnya, dwell time mengukur lamanya kontainer, kargo, atau unit pengiriman lain berada di fasilitas terminal, pelabuhan, atau area gate sebelum dilepas atau setelah tiba. Meski tampak sebagai angka administratif, dampak dwell time meluas: memengaruhi biaya (demurrage, detention), kapasitas terminal, likuiditas pemilik barang, ritme supply chain, serta risiko kerusakan dan klaim.
Studi kasus global menunjukkan bahwa pengurangan dwell time hanya beberapa jam saja dapat menurunkan biaya operasional dan meningkatkan throughput terminal secara signifikan. Sebaliknya, dwell time yang tinggi mengakibatkan backlog, kongesti, dan biaya tersembunyi yang besar dalam Pengiriman Barang.
#1. Definisi Dwell Time — Versi Operasional
Dwell time adalah waktu total yang dihabiskan oleh kargo (umumnya kontainer) di fasilitas tertentu selama proses pergerakan laut. Ada beberapa definisi kontekstual:
Dwell time di pelabuhan muat (export dwell): waktu sejak kontainer tiba di terminal/stacking area sampai kontainer di-gate-in ke kapal atau diterima operator kapal.
Dwell time di pelabuhan tujuan (import dwell): waktu sejak kapal docked/discharge sampai kontainer diambil dari yard/terminal oleh pengangkut darat atau di-release ke consignee.
Dwell time truck-to-truck / yard dwell: waktu yang terkait proses transshipment darat di dalam area terminal.
Dwell time per shipment: dapat mencakup waktu sejak arrival at port of discharge sampai physical release to consignee.
Intinya: dwell time = waktu tunggu — tetapi spesifik titik awal dan akhir harus didefinisikan dengan jelas sesuai proses operasional.
#2. Mengapa Pengukuran Dwell Time Harus Presisi?
Alasan utama mengapa dwell time wajib diukur secara teliti:
Biaya Langsung: demurrage (biaya jika kontainer melewati free time di terminal) dan detention (biaya jika kontainer berada di luar area terminal melebihi free time).
Biaya Tidak Langsung: opportunity cost penggunaan kontainer (idle), biaya ground handling tambahan, beban administrasi klaim, dan potensi kehilangan kapasitas stack.
Kinerja Operasional: dwell time tinggi menurunkan gate throughput, memperpanjang waiting time truck, dan memicu congesti.
Pengambilan Keputusan: alokasi resources, prioritas pengiriman, dan negosiasi SLA harus berbasis data dwell time historis.
Kepatuhan & Reputasi: keterlambatan release dapat mempengaruhi kontrak, penalti, dan reputasi perusahaan di mata customers dan carriers.
Oleh karena itu, pengukuran yang akurat (dengan definisi awal/akhir yang seragam) menjadi landasan perbaikan kontinu.
#3. Komponen Penyusun Dwell Time — Apa Saja yang Diukur?
Untuk memahami dan menganalisis dwell time, uraikan komponennya:
Arrival to Gate-In / Arrival to Unload: untuk export atau transshipment—waktu kontainer sampai di terminal sampai diterima untuk loading.
Discharge to Yard / Berthing to Discharge: waktu kapal sandar sampai kontainer didischarge dan dipindahkan ke yard.
Yard Dwell / Stack Time: time kontainer berada di yard sampai diambil.
Gate Processing Time: waktu yang dibutuhkan untuk proses administrasi saat truck datang untuk pick-up / drop-off (verifikasi dokumen, pembayaran, security check).
Customs Hold Time: durasi pemeriksaan atau hold oleh bea cukai.
Release to Pickup: waktu dari release (dokumen clear) sampai physical pickup; ini sering dipengaruhi oleh availability truck dan eksternal factors.
Empty Container Turnaround: untuk empty container, waktu antara discharge sampai diletakkan kembali untuk reuse/repositioning.
Setiap komponen punya penyebab dan solusi tersendiri—dan sering kala perlu dipilah untuk menentukan intervensi yang tepat.
#4. Penyebab Umum Dwell Time Tinggi
Berikut penyebab yang sering ditemui di lapangan, disertai penjelasan praktis:
4.1 Administrasi & Dokumen Tidak Lengkap
Dokumen yang tidak lengkap (invoice, packing list, CO, import permit) mencegah release. Penyebabnya sering: shipper lupa melampirkan atau dokumen tidak sesuai aturan bea cukai negara tujuan.
4.2 Delay Clearance Customs
Pemeriksaan fisik, permintaan dokumen tambahan, atau hold karena suspicious cargo. Proses ini sering tidak terprediksi waktunya sehingga menambah dwell time signifikan.
4.3 Capacity & Congestion di Terminal
Terminal padat, shortage slot crane, atau gangguan operasional (truck queuing) menyebabkan container tidak bisa segera di-move ke yard atau di-load ke kapal.
4.4 Kendala Transportasi Darat
Kekurangan armada trucking, jam operasional pelanggan, atau pelarangan akses tertentu ke lokasi consignee (gate time restrictions) menunda pickup.
4.5 Free Time yang Pendek & Kebijakan Tarif
Jika free time terlalu pendek dibanding praktik lokal, pelanggan terlambat mengambil barang sehingga segera kena demurrage—menggambarkan bukan hanya dwell time tapi juga kebijakan komersial yang tidak sinkron.
4.6 Komersial & Keuangan (Payment Hold)
Penagihan freight/THC yang belum diselesaikan atau dispute invoice menghalangi release dokumen (carrier/terminal menahan release sampai settlement).
4.7 Kesalahan Handling & Damages
Jika terjadi kerusakan saat discharge, proses survey dan klaim memakan waktu—kontainer di-lock/diset hold sampai penyelesaian.
4.8 Seasonal Peaks & Force Majeure
Musim puncak, badai, strike, atau kejadian luar biasa mempengaruhi schedule kapal dan mobilitas truk.
Mengetahui penyebab memungkinkan perusahaan menarget solusi yang tepat dan menghindari pendekatan “satu ukuran untuk semua”.
#5. Mengukur Dwell Time — Rumus & Metodologi
Agar keputusan berbasis data, ada beberapa rumus umum untuk menghitung dwell time:
5.1 Rumus Dasar
Dwell Time (hours/days) = Waktu Release / Pickup - Waktu Arrival at Terminal
Tetapkan satuan (jam atau hari) secara konsisten.
5.2 Contoh Perhitungan Sederhana (Import)
Arrival at terminal (container discharged): 1 Maret 2026, 08:00
Date/time release by customs/terminal: 3 Maret 2026, 09:00
Physical pickup by truck: 4 Maret 2026, 14:00
Berdasarkan dua perspektif:
Dwell time sampai release (customs/terminal): 3 Maret 09:00 - 1 Maret 08:00 = 49 jam (~2.04 hari)
Dwell time sampai pickup (full dwell): 4 Maret 14:00 - 1 Maret 08:00 = 78 jam (~3.25 hari)
Penting memilih metrik mana yang relevan: release-based (untuk bea cukai/terminal) atau pickup-based (untuk shipper/forwarder).
5.3 Dwell Time Median vs Mean
Dwell time sering memiliki distribusi skewed (beberapa kasus sangat lama). Gunakan median untuk mewakili “typical case” dan mean untuk melihat beban total. KPI terbaik menampilkan keduanya.
5.4 Segmentasi Per Container Type / Customer / Lane
Hitung dwell time per:
lane (origin-destination)
customer (account)
container type (20’GP, 40’HC, reefer)
Hal ini membantu menemukan titik bottleneck spesifik.
#6. Dampak Finansial Dwell Time — Biaya Nyata dan Tersembunyi
Dwell time berdampak ke sejumlah biaya langsung dan tidak langsung:
6.1 Demurrage & Detention
Demurrage: biaya atas keterlambatan pengambilan kontainer di area pelabuhan/terminal melebihi free time. Besaran tarif bervariasi oleh terminal/carrier.
Detention: biaya atas keterlambatan mengembalikan kontainer kosong ke perusahaaan pemilik kontainer.
Kedua biaya ini langsung merugikan shipper/consignee jika tidak dikelola.
6.2 Opportunity Cost Kontainer
Kontainer yang idle tidak bisa dipakai kembali untuk sailing berikutnya; biaya sewa kontainer tambahan dan repositioning meningkat.
6.3 Biaya Handling Tambahan
Prolonged dwell dapat memicu rehandling, inventaris tambahan, dan overtime untuk staf.
6.4 Biaya Kepatuhan & Penalti
Jika dwell time memicu pelanggaran peraturan (expired permits, expired storage limit), denda administratif dapat muncul.
6.5 Biaya Kualitas & Customer Service
Delay meningkatkan lead time delivery, merusak SLA, dan menimbulkan kompensasi atau lost sale.
Menghitung total biaya dwell time penting untuk business case mitigasi. Misalnya, bayangkan rata-rata dwell time per kontainer di rute tertentu turun 2 hari — berapa demurrage yang dapat dihemat per bulan? Itu adalah angka konkret untuk investasi perbaikan proses.
#7. Strategi Teknis & Operasional Mengurangi Dwell Time
Berikut taktik operasional yang telah terbukti efektif:
7.1 Automasi Dokumen & Pre-Arrival Clearance
Pre-alert & EDI: kirim dokumen elektronik (CI, PL, CO) ke customs dan terminal sebelum kedatangan kapal untuk percepatan clearance.
Pre-lodgement: lakukan pre-lodgement submission sehingga dokumen sudah dalam antrian saat kapal tiba.
7.2 Prioritas pada Data Quality
Pastikan commercial invoice & packing list akurat; karena mismatch adalah penyebab utama hold by customs.
Gunakan checklist wajib sebelum shipment submit.
7.3 Harmonisasi Free Time & SLA Commercial
Negosiasikan free time yang realistis bersama carriers/terminals berdasar lead times lokal dan customer capacity.
Alternatif: buat agreement untuk short free time tetapi opsi grace period dengan biaya yang disepakati.
7.4 Slot Booking & Truck Appointment System
Terapkan appointment system sehingga truck datang pada slot tertentu — menghilangkan antrian panjang dan mempercepat gate processing.
7.5 Cross-docking & Direct Delivery dari Wharf
Untuk cargo besar, pertimbangkan direct delivery dari wharf ke consignee (bila diizinkan) untuk meminimalkan yard dwell.
7.6 Inventory & Hub Strategy
Taruh stok konsinyasi di dekat port atau gunakan hub untuk mengurangi kebutuhan pengambilan import setiap kontainer.
7.7 Active Demurrage Management
Monitor free time countdown secara real-time dan kirim alert ke consignee atau freight payer beberapa hari sebelum free time expire.
Negosiasikan hold-back arrangements bila ada dispute invoice.
7.8 Capacity Planning & Contingency
Memonitor berjangka (forecast) kapal/terminal capacity dan siapkan shipper forwarders pooling jadwal untuk menghindari pola peak.
Setiap taktik harus disesuaikan dengan konteks lokal dan stakeholders yang terlibat.
#8. Strategi Komersial & Negosiasi untuk Meminimalkan Biaya
Di luar proses operasional, ada strategi komersial yang dapat menekan dampak biaya dwell:
8.1 Negosiasi Tarif Demurrage/Detention
Perusahaan besar biasa menegosiasikan cap atau grace period tambahan dalam kontrak tahunan.
Seringkali line carriers atau terminal bersedia menawar bila total volume tinggi.
8.2 Pengaturan Pihak Pembayar (Freight Payer)
Pastikan pihak yang bertanggung jawab atas demurrage dan detention jelas dalam komersial terms (who to bill).
Gunakan incoterm yang tepat untuk mengalokasikan risiko.
8.3 Insurance & Contingency Funds
Asuransi kargo biasanya tidak menutup demurrage, tetapi corporate contingency funds bisa dialokasikan untuk kasus sengketa yang sedang diselesaikan.
8.4 Incentive untuk Pickup Cepat
Program insentif untuk consignee atau trucking partners yang mengambil kontainer cepat (mis. discount pada service fee) dapat mengubah behaviour.
Negosiasi memerlukan data historis dwell time sebagai bukti untuk memperkuat posisi tawar.
#9. Peran Stakeholder: Siapa Bertanggung Jawab di Setiap Tahap?
Dwell time adalah masalah lintas fungsi. Berikut peran umum:
Shipper / Exporter: pastikan dokumen lengkap saat export; komunikasikan jadwal pickup; atur pre-advice ke forwarder.
Freight Forwarder / NVOCC: submit dokumen, arrange trucking, follow-up release, bantu clearance.
Carrier / Shipping Line: manage vessel schedule, issue B/L and release, nego demurrage terms.
Terminal / Stevedore: handling physical, yard operations, gate processing.
Customs / Regulator: melakukan pemeriksaan dan clearance.
Consignee / Importer: arrange pickup dan settle charges (jika mereka bertanggung jawab).
Trucking Companies: pick-up & delivery sesuai appointment; capacity management.
Koordinasi antar-pihak melalui SLA, integrated IT systems, dan komunikasi real-time menjadi kunci.
#10. KPI & Dashboard Dwell Time — Apa yang Harus Dipantau?
Beberapa KPI yang bermanfaat:
Average Dwell Time (per container / per lane / per customer) — mean & median.
% Containters > Free Time — persentase kontainer yang melewati free time.
Average Demurrage Cost per Container — biaya demurrage rata-rata.
Gate Turn Time — waktu rata-rata processing truck di gate.
Throughput per Day — kontainer yang keluar masuk per hari.
Customs Hold Rate — persentase shipment yang di-hold bea cukai.
Pickup Lead Time — rata-rata waktu antara release ke pickup.
Dashboard harus menampilkan tren harian/mingguan, top-accounts with highest dwell, dan alerts real-time untuk benda yang approaching free time expiry.
#11. Contoh Kasus & Perhitungan Dampak Biaya (Ilustratif)
Kasus: Sebuah importir mengimpor 500 kontainer per bulan. Rata-rata dwell time saat ini = 5 hari; free time yang diberikan = 3 hari; rata-rata demurrage per kontainer per hari = Rp 300.000.
Perhitungan kasar:
Kontainer yang terkena demurrage = 500 × (dwell days - free time) average overflow days. Asumsikan 40% melewati free time, average overflow 2 hari per kontainer terkena.
Kontainer terkena demurrage = 500 × 40% = 200 kontainer.
Total demurrage per bulan = 200 kontainer × 2 hari × Rp 300.000 = Rp 120.000.000.
Jika perusahaan berhasil menurunkan dwell time rata-rata menjadi 4 hari (overflow hari turun menjadi 1 per kontainer terkena), penghematan demurrage menjadi 200 × 1 × 300.000 = Rp 60.000.000 — penghematan Rp 60 juta/bulan. Angka ini cukup untuk membiayai beberapa inisiatif perbaikan operasional.
Hitungan ini menunjukkan nilai nyata jika perusahaan fokus mengurangi dwell time.
#12. Checklist Praktis untuk Menurunkan Dwell Time (Untuk Shipper / Forwarder)
Gunakan checklist ini sebagai panduan tindakan harian dan strategis:
Pra-kedatangan kapal / Pra-arrival
Submit semua dokumen pre-arrival via EDI minimal X jam sebelum kedatangan.
Pastikan invoice, packing list, CO, dan permit sesuai.
Koordinasikan dengan customs broker untuk clearance pre-lodgement.
Setelah Discharge
Terima notifikasi discharge & check release status.
Cek apakah ada customs hold; siapkan dokumen tambahan jika diminta.
Koordinasikan truck appointment segera (book slot).
Kirim reminder pickup kepada consignee 48/24 jam sebelum free time expire.
Commercial & Finance
Pastikan pembayaran charges tercatat (bill to party) dan tidak ada dispute yang menunda release.
Siapkan contingency fund untuk speedy settlement bila perlu.
Operational
Monitor yard dwell time daily & escalate top-konteners yang mendekati free time limit.
Implement gate appointment system untuk mengurangi queue time.
Review & Continuous Improvement
Lakukan weekly review: top 10 customers, lanes dengan dwell tinggi.
Root cause analysis untuk top 3 penyebab dan implement action plan.
Checklist ini harus disosialisasikan ke internal teams dan partners.
#13. SOP Singkat: Notification dan Escalation untuk Kontainer Mendekati Free Time Expiry
T - 72 jam sebelum free time expiry: sistem mengirim auto-email reminder ke consignee & freight payer.
T - 48 jam: jika belum ada konfirmasi pickup, admin sales/forwarder menelpon consignee dan konfirmasi availability truck.
T - 24 jam: escalate ke account manager; minta agreement berupa payment guarantee atau appointment pickup.
T - Saat expiry: jika tidak ada action, kirim final notice & request immediate settlement; jika masih belum diambil, dokumentasikan dan hitung demurrage.
T + X hari: jika tidak diselesaikan, escalate legal/commercial untuk penagihan atau instruksi disposal (jika policy mengizinkan).
SOP ini harus tertulis dan disetujui stakeholders agar respons konsisten.
#14. Peran Teknologi (Tanpa Menyebut Istilah yang Diminta Dihindari)
Teknologi mendukung pengurangan dwell time melalui beberapa cara:
Sistem pertukaran dokumen elektronik (pre-arrival submission) mempercepat clearance.
Platform appointment untuk truck mengoptimalisasi gate processing.
TMS/WMS integration memberikan visibility on release status dan pickup scheduling.
Alert & notification engine (email/SMS) untuk proaktif menginformasikan free time countdown.
Analytics dashboard memvisualisasikan dwell trends dan top-konteners.
Implementasi teknologi harus disertai proses perubahan (change management) agar pengguna memanfaatkan tools secara konsisten.
#15. Hambatan Implementasi Perbaikan dan Cara Mengatasinya
Beberapa hambatan umum dan solusi praktis:
Hambatan A — Fragmented Stakeholders
Banyak pihak terlibat (shipper, consignee, carrier, terminal, customs).
Solusi: establish cross-stakeholder SLA & regular coordination meeting; buat single-point-of-contact (SPOC) untuk escalation.
Hambatan B — Kurangnya Data Berkualitas
Tanpa data, solusi jadi spekulatif.
Solusi: investasi pada integrasi data, standardisasi timestamp entry (gate-in, discharge, release, pickup).
Hambatan C — Regulatory & Policy Constraints
Peraturan lokal kadang sulit di-bypass.
Solusi: engage customs broker early; gunakan pre-clearance programs bila tersedia.
Hambatan D — Behavioural / Cultural
Consignee malas mengambil kontainer cepat.
Solusi: edukasi cost impact, buat insentif pengambilan cepat.
Memahami hambatan membantu merancang roadmap yang realistis.
#16. Studi Kasus Singkat: Implementasi Appointment System di Pelabuhan X
Konteks: Pelabuhan X mengalami jam panjang untuk gate-in truck—rata-rata gate processing 6 jam; dwell time import 7 hari rata-rata.
Solusi yang diimplementasikan: terminal memperkenalkan system appointment berbasis online; forwarders diwajibkan booking slot 48 jam sebelumnya; juga diberlakukan penalty untuk truck no-show. Terminal melakukan digital pre-arrival document check.
Hasil setelah 6 bulan: gate processing turun dari 6 jam menjadi 1,2 jam; median dwell import menurun dari 7 hari menjadi 3,5 hari; pendapatan terminal meningkat karena throughput lebih tinggi.
Lesson learned: koordinasi dan enforcement policy (no-show penalty) menjadi kunci untuk menjaga disiplin.
#17. Kesimpulan & Rekomendasi Aksi
Dwell time adalah metrik yang mencerminkan banyak variabel dalam supply chain laut — dokumen, clearance, capacity, trucking, dan kebijakan komersial
Siap mengirimkan kargo Anda? Kirimkan melalui Hasta Buana Raya untuk solusi logistik yang andal dan aman!
👉 Hubungi 📱 +62-822-5840-1230 (WhatsApp/Telepon) untuk informasi lebih lanjut dan solusi pengiriman terbaik!
Kami menyediakan layanan pengiriman yang aman, nyaman, dan terjangkau dari seluruh Indonesia. Layanan prioritas kami meliputi:
Pengiriman barang melalui udara (Pesawat Kargo, Sewa, dan Penerbangan Khusus)
Metode Pengiriman yang berbeda (Bandara ke Bandara , Gudang ke Gudang , dan Bandara ke Gudang)
Gudang dan Distribusi
Kontak
Bantuan
+62 822-3300-4972 (CS 1)
© 2024. Semua hak cipta dilindungi.


+62-811-9778-889
+62 822-3300-4973 (CS 2)
