Istilah Point of Origin dalam Pengiriman Barang via Darat
BTB (Bukti Timbang Barang) adalah dokumen resmi yang mencatat hasil penimbangan kargo—gross, tare, dan net weight—yang krusial untuk keselamatan penerbangan, perhitungan tarif, kepabeanan, dan audit operasional. Panduan ini menjelaskan definisi, fungsi, prosedur penimbangan, alat & kalibrasi, format BTB, SOP lapangan, masalah umum, studi kasus, serta checklist dan template praktis yang bisa langsung diterapkan oleh operator gudang, forwarder, dan maskapai.
Digital Marketing
1/14/20267 min baca
Pendahuluan — Kenapa "Point of Origin" Penting?
Dalam rantai pasok darat, istilah yang tampak sederhana seperti Point of Origin (POO) — titik asal pengiriman — sesungguhnya memengaruhi banyak hal: siapa yang bertanggung jawab atas barang pada tahap awal, bagaimana dokumen ekspor/impor disusun, perhitungan biaya, perizinan lintas batas, hingga klaim asuransi bila terjadi masalah. Salah mencatat atau salah mengartikan titik asal bisa memicu delay, biaya tambahan, dan konflik tanggung jawab.
Artikel ini mengurai istilah tersebut secara mendalam, memberi contoh praktis, menjelaskan bagaimana menuliskannya di dokumen, menampilkan SOP singkat, checklist, dan template yang bisa langsung digunakan. Tujuannya: membuat Anda — shipper, forwarder, carrier, atau admin logistik — mampu memastikan data point of origin selalu tepat dan berguna dalam Pengiriman Barang.
1. Definisi: Apa itu Point of Origin?
Point of Origin (POO) adalah lokasi fisik tempat barang mulai dikirim — titik di mana tanggung jawab pengiriman dimulai, muatan pertama diambil oleh penyedia jasa (carrier) atau titik di mana shipper menyerahkan barang ke forwarder/carrier. Dalam konteks darat, bisa berupa:
Gudang shipper / pabrik (warehouse/manufacturer).
Tempat penjemputan oleh trucking company (pickup point).
Inland depot / container depot (untuk kargo yang diserahkan di depo).
Titik pengambilan pada lokasi pihak ketiga (consolidation hub / cross-dock).
POO berbeda dengan "place of receipt", "place of acceptance", atau "port of loading" (untuk laut/udara), tetapi sering digunakan bergantian dalam praktik sehari-hari — sehingga penting memahami perbedaan kontekstual.
2. Perbedaan Penting: Point of Origin vs Place of Receipt vs Shipper’s Address
Sering terjadi kebingungan karena istilah berikut tampak mirip. Berikut perbedaan praktisnya:
Point of Origin: lokasi fisik pertama kali barang berada sebelum diserahkan ke ekosistem pengiriman (umumnya shipper/pabrik/gudang). Ini juga bisa merujuk pada lokasi yang tercatat pada dokumen komersial sebagai alamat asal barang.
Place of Receipt / Acceptance: lokasi di mana carrier atau agen resmi menerima barang secara fisik. Bisa sama dengan POO tetapi bisa berbeda jika shipper menyerahkan barang ke pihak ketiga (mis. trucking ke loading bay depo).
Shipper’s Address: alamat resmi penanggung jual dalam dokumen (commercial invoice). Terkadang shipper punya alamat administrasi yang berbeda dengan lokasi fisik POO (mis. kantor pusat vs pabrik).
Dalam dokumen yang benar: sebaiknya catat ketiga informasi ini bila relevan — sehingga tidak ada interpretasi keliru saat klaim, kepabeanan, atau penagihan.
3. Mengapa Penentuan Point of Origin Mempengaruhi Rantai Pasok?
Beberapa area di mana POO berpengaruh besar:
3.1 Dokumen & Kepabeanan
Untuk ekspor-impor lintas batas, Point of Origin membantu menentukan tempat pengeluaran barang pada negara asal dan memberikan rujukan bagi dokumen kepabeanan (mis. Pemberitahuan Ekspor Barang, Clearance).
Certificate of Origin (untuk klaim preferensi tarif) sering mengandalkan bukti tempat pembuatan atau pengemasan—yang erat kaitannya dengan POO.
3.2 Perhitungan Biaya & Penagihan
Biaya pickup/trucking awal (origin haulage) dihitung dari POO. Jika POO bukan gudang shipper melainkan depo pihak ketiga, biaya pickup dan tanggung jawab handling bisa berbeda.
Dalam skenario multi-leg (multi-stop), biaya origin handling perlu dicatat terpisah agar reconciliation dengan shipper/forwarder rapi.
3.3 Incoterms & Alokasi Risiko
Incoterms (mis. EXW, FOB, DAP, DDP) menentukan titik transisi risiko. POO menjadi relevan untuk menetapkan kapan risiko berpindah dari seller ke buyer. Contoh: EXW (Ex Works) berarti buyer bertanggung jawab sejak barang tersedia di POO (pabrik).
Kesalahan penetapan POO bisa menimbulkan perselisihan: siapa menanggung kerusakan atau kehilangan selama pickup?
3.4 Asuransi
Polis asuransi kargo kadang mensyaratkan nilai deklarasi dan titik berangkat yang jelas. POO menentukan coverage start point (waktu & lokasi dimulainya perjalanan).
3.5 Operasional & Perencanaan
Jadwal pickup, alokasi armada, dan estimasi ETA dipengaruhi oleh jarak dari POO ke rute utama atau terminal. Lokasi POO yang sulit diakses memerlukan truck khusus (flatbed, low-bed) atau izin over-dimension — memengaruhi cost dan timeline.
4. Bagaimana Menulis Point of Origin yang Benar di Dokumen?
Praktik terbaik agar informasi jelas dan tidak multi-interpretasi:
Gunakan format alamat lengkap: Nama lokasi, nama jalan, kota, provinsi, kode pos, negara (untuk lintas batas).
Cantumkan koordinat GPS bila perlu (lat/long) — sangat membantu saat lokasi remote atau untuk otomasi TMS.
Tulis jenis lokasi: mis. "Factory / Warehouse / Depot / Cross-dock" untuk kontekstualisasi.
Tambahkan contact person & phone — agar driver bisa koordinasi penjemputan.
Jika Place of Receipt berbeda, catat kedua lokasi: tulis “Point of Origin (Physical): ... ; Place of Acceptance (Carrier): ...”
Sertakan jam jendela pickup (pickup window) sehingga scheduling lebih efektif.
Contoh entry di consignment note:
Point of Origin (Physical): PT. Maju Sejahtera - Warehouse 3 Jl. Industri Raya No. 42, Kawasan Industri Cikarang Bekasi, Jawa Barat 17530, Indonesia Lat/Long: -6.3074, 107.1001 Contact: Bpk. Agus (0812-xxxx-xxxx) — Pickup window: 08:00–12:00
5. Hubungan Point of Origin dengan Incoterms: Siapa Bertanggung Jawab?
Incoterms 2020 menentukan titik alih tanggung jawab dan pengalihan biaya. Berikut contoh implikasinya:
EXW (Ex Works): POO = seller’s premises. Buyer/forwarder menanggung pickup, export clearance (kecuali disepakati sebaliknya), dan risiko sejak barang disediakan.
FOB (Free on Board) — untuk laut/air kombinasi: seller bertanggung jawab sampai barang di atas kapal di port of shipment; POO mungkin gudang seller tapi penyerahan akhir di pelabuhan muat.
DAP / DDP: seller menanggung risiko dan biaya hingga sampai tempat tujuan yang disepakati; POO masih titik awal, namun tanggung jawab seller lebih panjang.
Praktik: selalu sebut Incoterm di dokumen bersama POO. Contoh: “EXW PT. X — POO: Warehouse A” — sehingga semua pihak paham kapan tanggung jawab bergeser.
6. Point of Origin untuk Pengiriman Lintas Batas Darat (Cross-border Road)
Dalam konteks pengiriman antarnegara (mis. Indonesia → Malaysia via darat), POO berperan khusus:
Dokumentasi CMR (Convention on the Contract for the International Carriage of Goods by Road): untuk negara penandatangan CMR, place of taking over (mirip POO) tercantum di CMR note dan menjadi rujukan klaim.
Customs / Border Clearance: origin customs paperwork (eksport declaration) terkait lokasi asal—kadang pemeriksaan fisik (pre-inspection) dilakukan di POO untuk komoditas tertentu.
Transport permits & phytosanitary checks: beberapa barang (agri, timber) memerlukan sertifikat sebelum meninggalkan POO. Pastikan tersedia sebelum pickup.
7. Peran POO dalam Proses Pre-Alert & Pickup Scheduling
Praktik operasional yang baik mengandalkan pre-alert:
Pre-alert adalah notifikasi awal (email/SMS/EDI) ke carrier/forwarder: mencantumkan POO, jadwal siap, volume, berat, packaging, dan apakah butuh handling khusus.
Pre-alert yang akurat mengurangi no-show, double trips, dan biaya idle truck. Contoh isi pre-alert:
POO, contact person & phone
Jumlah pallet/koli, dimensi & berat total
Hazardous goods? (yes/no) dan dokumen pendukung
Required equipment (tail lift, forklift, reefer plugin)
Pickup window & delivery reference
SOP internal: minta pre-alert minimal X jam sebelum truck dispatch (mis. 24 jam untuk long haul, 4–6 jam untuk local pickup).
8. Kaitan POO dengan Asuransi Kargo dan Klaim
Asuransi kargo mencatat point when coverage starts. Contoh skenario:
Jika Incoterm EXW: buyer yang arrange insurance mulai coverage dari pickup di POO.
Jika seller arrange insurance under CIF/DAP: coverage berjalan dari origin until named destination.
Saat klaim terjadi, adjuster akan minta bukti: consignment note, BTB, foto kondisi barang di POO (pre-shipment), dan EOR (evidence of receipt) di transit. Oleh karena itu dokumentasi POO (foto barang sebelum loading, statement of condition) sangat bernilai.
9. Kesalahan Umum Terkait Point of Origin dan Cara Menghindarinya
Berikut kesalahan berulang yang berpotensi mahal:
Menulis alamat administrasi, bukan lokasi fisik POO — mis. kantor pusat daripada gudang produksi → driver salah alamat → delay.
Solusi: wajibkan field “POO (lokasi fisik)” dan “Shipper’s billing address” terpisah.Tidak menyertakan contact person & jam operasi — driver tiba tapi gudang tutup.
Solusi: cantumkan contact & pickup window di pre-alert.Tidak menandai perbedaan antara POO dan place of acceptance — menyebabkan sengketa tanggung jawab jika pickup dilakukan di pihak ketiga.
Solusi: tulis kedua lokasi di dokumen.Lupa menyertakan izin / dokumen khusus yang diperlukan di POO (sertifikat sehat, phytosanitary, export permit) → hold at border.
Solusi: checklist pre-shipment; forwarder meminta dokumen jauh hari.Mengandalkan alamat tekstual tanpa koordinat untuk lokasi yang remote → kesalahan navigasi.
Solusi: lampirkan GPS coordinates dan petunjuk akses.
10. Contoh Kasus & Solusi Praktis
Kasus 1 — Shipper Menyebut Kantor Pusat sebagai POO
Seorang forwarder mengirim truk ke kantor pusat yang ternyata hanya kantor administrasi; barang di gudang 20 km terpisah → biaya tambahan & delay.
Solusi: buat mandatory field “Physical Point of Origin (where goods are physically located)” pada booking form; training sales/admin untuk verifikasi lokasi.
Kasus 2 — POO di Area Restricted / Toll-Laden
POO terletak pada kawasan industri dengan akses terbatas jam tertentu; truck kena antrian panjang di gate.
Solusi: request gate pass & slot booking dari shipper; jadwalkan pickup di jam yang disetujui; gunakan pre-alert untuk konfirmasi.
Kasus 3 — Cross-border POO tanpa dokumentasi ekspor
Barang diserahkan dari POO tanpa export declaration; truck ditahan di perbatasan.
Solusi: pastikan export clearance (dokumen kepabeanan) selesai sebelum truck melintas; gunakan bonded carrier jika perlu.
11. SOP Singkat: Menangani Point of Origin dalam Alur Pengiriman Darat
Berikut template SOP 8 langkah untuk tim operasional:
Booking Entry: Sales/admin menginput POO di system: alamat lengkap + lat/long + contact + pickup window.
Pre-alert Creation: Forwarder mengirim pre-alert ke carrier 24 jam sebelum pickup (atau 4–6 jam untuk lokal).
Document Check: Pastikan semua dokumen (invoice, packing list, permits) ada di file; jika crossing border, cek export permit & CO.
Equipment Selection: Tentukan truck & gear sesuai kebutuhan POO (tail lift, forklift availability).
Gate Booking (jika perlu): booking slot gate di POO atau depo.
On-site Verification: Driver konfirmasi arrival, cek goods condition & jumlah, ambil photo proof.
Sign-off & Handover: Tanda tangan delivery receipt / consignment note dengan catatan apapun; scan & upload ke TMS.
Sync & Notification: Update status di TMS dan notifikasi shipper & consignee tentang ETA.
12. Template Pre-Alert & Consignment Note (Praktis)
Berikut contoh singkat pre-alert (email/format EDI):
Subject: PRE-ALERT PICKUP — POO: PT. Maju Sejahtera — 12 Jan 2026 — CN: ABC12345
Body:
POO: PT. Maju Sejahtera — Warehouse 3, Jl. Industri No. 42, Cikarang, Bekasi 17530
GPS: -6.3074, 107.1001
Contact: Bpk Agus (0812-xxxx-xxxx) — Pickup window 08:00–12:00
Commodity: Electric motors — 10 pallets — Total gross weight 2.500 kg — Dimensions per pallet 120×100×150 cm
Handling: Forklift available, need tail-lift on truck
Documents: Commercial Invoice, Packing List, Phytosanitary Certificate attached
Special notes: Pallets shrink-wrapped, ready at loading bay #5
Attachment: commercial_invoice.pdf; packing_list.pdf; permit.pdf
13. Checklist Praktis untuk Shipper / Forwarder Terkait POO
Alamat POO sudah lengkap & sesuai kondisi fisik (cek satelit/GPS).
Contact person & phone tersedia & reachable pada pickup window.
Dokumen ekspor/impor (jika lintas batas) siap dan diserahkan ke carrier/forwarder.
Equipment requirement (forklift, tail lift, reefer plugin) dikonfirmasi.
Gate booking / slot jika POO ada kebijakan area industri.
Foto pre-load & seal number (jika container) disiapkan.
Incoterm dicantumkan dalam booking & dokumen.
Asuransi: pihak yang menanggung disepakati dan polis dikonfirmasi.
14. Peran Teknologi: Memetakan POO secara Otomatis & Efisiensi
Pemanfaatan teknologi memperkecil error:
TMS / Booking System dengan field mandatory POO + geolocation validation (autocomplete Google Maps).
Mobile apps untuk driver yang menampilkan petunjuk rute dan men-generate proof-of-pickup (foto + timestamp + geotag).
EDI / API untuk pre-alert dan document exchange antara shipper, forwarder, dan carrier.
Document portal: upload dokumen (CI, PL, permits) yang dapat diakses oleh semua pihak.
Implementasi sederhana: tambah field GPS dan validasi alamat di form booking sehingga staff tidak bisa memproses booking tanpa POO valid.
15. FAQ Singkat
Q: Apakah Point of Origin selalu sama dengan alamat penagihan (billing address)?
A: Tidak. Point of Origin umumnya lokasi fisik pengambilan barang, sedangkan billing address bisa berupa kantor pusat. Keduanya harus dicatat terpisah jika berbeda.
Q: Jika barang dikirim dari gudang pihak ketiga, siapa yang mencatat POO?
A: Shipper harus mencatatnya secara akurat saat membuat booking; forwarder harus memverifikasi selama pre-alert.
Q: Bolehkah saya memakai koordinat GPS saja tanpa alamat lengkap?
A: Koordinat berguna ketika lokasi remote, tetapi kombinasi alamat + GPS ideal agar driver dan sistem kepabeanan bisa memproses dengan jelas.
16. Kesimpulan — Buat Point of Origin Menjadi Data yang Andal
Point of Origin lebih dari sekadar alamat singkat — ia adalah data operasional penting yang memengaruhi jadwal, biaya, kepatuhan, dan alur klaim. Pastikan POO dicatat dengan lengkap (alamat fisik, GPS, contact, pickup window), disertai dokumentasi pendukung, dan disinkronkan ke sistem TMS/ERP. Terapkan SOP, validasi pre-alert, dan gunakan teknologi sederhana (validasi alamat/GPS, mobile driver apps) untuk mengurangi kesalahan.
Siap mengirimkan kargo Anda? Kirimkan melalui Hasta Buana Raya untuk solusi logistik yang andal dan aman!
👉 Hubungi 📱 +62-822-5840-1230 (WhatsApp/Telepon) untuk informasi lebih lanjut dan solusi pengiriman terbaik!
Kami menyediakan layanan pengiriman yang aman, nyaman, dan terjangkau dari seluruh Indonesia. Layanan prioritas kami meliputi:
Pengiriman barang melalui udara (Pesawat Kargo, Sewa, dan Penerbangan Khusus)
Metode Pengiriman yang berbeda (Bandara ke Bandara , Gudang ke Gudang , dan Bandara ke Gudang)
Gudang dan Distribusi
Kontak
Bantuan
+62 822-3300-4972 (CS 1)
© 2024. Semua hak cipta dilindungi.


+62-811-9778-889
+62 822-3300-4973 (CS 2)
