Apa itu Lead Time dalam Pengiriman Barang via Darat

Pelajari pengertian lead time untuk pengiriman darat: komponen, cara menghitung, contoh perhitungan langkah-demi-langkah, faktor yang memengaruhi, dampak ke biaya dan layanan, strategi singkat untuk memangkas lead time, KPI yang penting, SOP praktis, checklist, studi kasus, serta template komunikasi yang bisa langsung dipakai oleh tim operasi, sales, dan pelanggan.

Digital Marketing

1/27/20266 min baca

An aerial view of a parking lot with lots of solar panels
An aerial view of a parking lot with lots of solar panels

Pendahuluan — kenapa Lead Time krusial untuk pengiriman darat?

Lead time adalah salah satu metrik paling menentukan dalam logistik darat. Bagi pemilik barang, distributor, atau pelaku logistik, lead time memengaruhi kepuasan pelanggan, perencanaan persediaan, biaya penyimpanan, dan kemampuan memenuhi janji pengiriman. Dalam konteks darat — yang melibatkan pickup, loading, perjalanan, dan delivery — memahami setiap komponen lead time membantu menurunkan biaya tersembunyi, mengurangi ekspedisi mahal, dan meningkatkan keandalan layanan dalam Pengiriman Barang.

1. Definisi singkat: apa itu Lead Time?

Lead time dalam pengiriman barang via darat adalah total waktu yang diperlukan sejak suatu pesanan (order) diinisiasi sampai barang tersebut sampai ke penerima akhir. Dengan kata lain, ini adalah akumulasi semua waktu tunggu dan waktu proses yang terjadi selama alur pengiriman: mulai dari pemrosesan order, penjemputan (pickup), penanganan di gudang, perjalanan di jalan, sampai penyerahan barang ke consignee.

Secara operasional sering dibedakan menjadi beberapa jenis lead time (kita bahas rinci di bagian berikut).

2. Jenis-jenis Lead Time yang Perlu Anda Ketahui

  1. Order Processing Lead Time — waktu yang dibutuhkan untuk memproses pesanan sampai siap untuk pick-up (verifikasi dokumen, validasi stok, penjadwalan).

  2. Pickup Lead Time — waktu dari permintaan pickup sampai truk datang mengambil barang.

  3. Loading / Handling Lead Time — waktu untuk memuat barang ke kendaraan (forklift, palletizing, checking).

  4. Transit Lead Time — waktu mobil/truk bergerak dari titik asal ke tujuan (driving time + traffic delays + rest stops).

  5. Unloading / Delivery Lead Time — waktu bongkar di lokasi tujuan plus proses penyerahan (scan, tanda terima).

  6. Return / Reverse Lead Time — untuk pengembalian barang atau empty returns; jarang masuk hitungan utama, tapi penting untuk manajemen kontainer/truk.

Ketika berbicara lead time total, biasanya kita menjumlahkan semua komponen di atas.

3. Komponen Lead Time — uraian dan contoh pada tiap langkah

3.1 Order Processing (Waktu Pemrosesan Order)

Deskripsi: verifikasi order, pembayaran (jika perlu), alokasi stok, pembuatan dokumen (surat jalan/packing list), dan pemberian instruksi ke tim operasi.
Faktor yang memengaruhi: kualitas data order, integrasi sistem, kebijakan approval internal, dan kesiapan stok.

3.2 Pickup (Waktu Penjemputan)

Deskripsi: waktu dari permintaan pickup sampai truk tiba di titik penjemputan.
Faktor: backlog armada, window waktu supplier, jarak depot, traffic jam di jam puncak, dan booking system.

3.3 Loading / Handling

Deskripsi: menyiapkan barang di loading bay, pengecekan jumlah, palletizing, wrapping, dan memuat ke truk.
Faktor: ketersediaan forklift, jumlah artikel per pallet, kompleksitas packaging, dan standard operating procedure gudang.

3.4 Transit (Waktu Perjalanan)

Deskripsi: driving time antar titik.
Faktor: jarak (km), kondisi jalan, cuaca, jam macet, kebijakan sopir (istirahat), izin oversize, dan rute yang dipilih.

3.5 Unloading / Delivery

Deskripsi: bongkar barang di lokasi tujuan, verifikasi penerima, tanda terima dokumen (POD).
Faktor: kesiapan penerima, jam operator di lokasi, akses site (gate/yard), serta layanan tambahan seperti inside delivery atau assembly.

3.6 Waiting & Buffer Time (Waktu Cadangan)

Tidak jarang ada waktu tidak produktif: menunggu slot loading, antrean di gate, penundaan izin, atau pemeriksaan dokumen. Buffer sering dimasukkan pada perencanaan lead time untuk menghindari underestimation.

4. Rumus dan Cara Menghitung Lead Time (dengan contoh angka)

Secara sederhana:

Lead Time Total = Order Processing + Pickup + Loading + Transit + Unloading + Buffer

Contoh Perhitungan — langkah demi langkah (harus digit per digit)

Misal kita punya satu pengiriman standar:

  • Order Processing = 8 jam

  • Pickup = 6 jam

  • Loading = 4 jam

  • Transit = 36 jam

  • Unloading = 3 jam

  • Buffer = 0 jam (asumsi tanpa buffer untuk contoh ini)

Kita hitung Lead Time Total:

  1. Ambil angka: 8, 6, 4, 36, 3.

  2. Hitung penjumlahan langkah-demi-langkah:

    • 8 + 6 = 14.

    • 14 + 4 = 18.

    • 18 + 36 = 54.

    • 54 + 3 = 57.

  3. Jadi Lead Time Total = 57 jam.

Jika ingin mengonversi ke hari: 57 jam ÷ 24 jam per hari = 2,375 hari.
Langkah konversi digit-by-digit:

  • 24 × 2 = 48 jam.

  • 57 − 48 = 9 jam sisa.

  • Jadi 57 jam = 2 hari 9 jam → atau 2,375 hari.

Catatan: Dalam praktik, biasanya lead time dihitung dalam satuan jam untuk rute domestik short haul dan dalam hari untuk rute jauh/antar pulau.

5. Contoh Kasus Perhitungan Lebih Realistis (Domestic, Multi-stop)

Skenario: pengiriman dari Gudang A (Jakarta Barat) ke Minimarket di Bandung, dengan satu stop di depo konsolidasi di Cikarang.

Komponen:

  • Order Processing = 10 jam

  • Pickup (dari Gudang A ke depo Cikarang) = 4 jam

  • Handling at depo (reconsolidation) = 6 jam

  • Transit (Cikarang → Bandung) = 5 jam

  • Unloading di Bandung = 2 jam

  • Waiting at Gate (bandara/depo) = 1 jam

  • Buffer & admin = 2 jam

Hitung:

  1. 10 + 4 = 14.

  2. 14 + 6 = 20.

  3. 20 + 5 = 25.

  4. 25 + 2 = 27.

  5. 27 + 1 = 28.

  6. 28 + 2 = 30.

Hasil: Lead Time Total = 30 jam → setara 1 hari 6 jam.

6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lead Time (rincian)

  1. Jarak & Rute: semakin jauh dan kompleks rute (banyak tanjakan, jalan rusak), semakin lama transit.

  2. Kondisi Jalan & Cuaca: hujan besar, banjir, longsor menambah waktu.

  3. Frekuensi Armada & Kapasitas: jika armada terbatas, pickup bergeser ke hari lain.

  4. Ketersediaan Dokumen & Kepatuhan: kelengkapan surat jalan, izin trayek, atau perizinan lintas kabupaten/provinsi.

  5. Jam Operasional Penerima: banyak gudang buka 08:00–17:00; jika truk datang di luar jam itu, harus menunggu.

  6. Tingkat Otomatisasi & Integrasi Sistem: sistem terintegrasi mempercepat order processing & pre-alert.

  7. Traffic & Jam Puncak: metropolitan sering memiliki jam puncak yang menambah durasi perjalanan.

  8. Kondisi Pengemudi: aturan jam kerja supir, batas waktu istirahat, dan peraturan keselamatan.

  9. Kejadian Tak Terduga: kecelakaan, mogok, inspeksi polisi, strike.

7. Dampak Lead Time terhadap Biaya & Layanan

Dampak ke Biaya

  • Lead time panjang → kebutuhan safety stock naik → biaya penyimpanan meningkat.

  • Penambahan buffer atau expedite (pengiriman cepat) meningkatkan biaya transport per unit.

  • Lead time tidak konsisten → ketidakpastian, menyebabkan emergency shipments (biaya tinggi).

Dampak ke Layanan

  • Lead time pendek dan andal → kepuasan pelanggan meningkat, retensi customer lebih baik.

  • Ketidakpastian lead time → customer complaints, potensi denda SLA, dan reputasi menurun.

8. Strategi Mengurangi Lead Time (praktis dan langsung bisa dicoba)

  1. Optimalkan Order Processing

    • Terapkan standar form booking yang wajib diisi; gunakan checklist dokumen agar tidak ada revisi yang memakan waktu.

    • Otomatkan konfirmasi stok dan alokasi menngunakan sistem (jika tersedia).

  2. Perbaiki Slotting & Pick/Packing di Gudang

    • Letakkan item yang sering keluar dekat loading bay (slotting).

    • Gunakan pre-built bundles untuk pesanan populer.

  3. Perencanaan Armada & Rute

    • Gunakan rute teroptimasi (shortest path & traffic-aware) dan buat schedule pickup cluster (kumpulkan beberapa pickup dalam satu rute).

  4. Appointment System untuk Pickup/Delivery

    • Jadwalkan slot waktu sehingga truk tidak antre di gate dan proses administratif cepat.

  5. Koordinasi Pre-alert

    • Kirim pre-alert 24 jam/6 jam sebelum keberangkatan sehingga penerima siaga.

  6. Workload Management & Shift

    • Untuk volume tinggi, jalankan shift penuh (early/late) untuk mengurangi bottleneck.

  7. Monitoring Real-time

    • Tracking kendaraan & ETA sehingga dapat melakukan intervensi jika terjadi delay.

  8. Seleksi Partner yang Tepat

    • Pilih trucking partner dengan track record on-time delivery dan capacity coverage.

9. Kebijakan Buffer — Berapa Banyak Cadangan yang Wajar?

Buffer (safety time) berguna untuk menutup variabilitas. Besaran buffer tergantung pada:

  • Stabilitas rute (rute stabil → buffer kecil, rute volatile → buffer besar).

  • Konsekuensi keterlambatan (SLA ketat → buffer lebih besar).

  • Historical variability: hitung standard deviation lead time historis; safety time = z × σ (z tergantung service level yang diinginkan).

Contoh praktis sederhana (non-statistik): jika rata-rata lead time = 24 jam dan variasi tipikal ± 6 jam, tambahkan buffer 6 jam untuk kondisi aman — jadi plan 30 jam.

10. KPI Penting terkait Lead Time untuk Dipantau

  • Average Lead Time (per route / per customer) — menunjukkan rata-rata nyata.

  • Lead Time Variability (Std Dev atau Range) — seberapa konsisten lead time.

  • On-time Delivery Rate (%) — persentase pengiriman yang tiba sesuai ETA.

  • Order-to-Pickup Time — rata-rata waktu dari order diterima sampai pickup.

  • Transit Time Performance — waktu actual driving versus plan.

  • Fill Rate & Perfect Order Rate — menunjukkan hubungan antara ketersediaan stok dan lead time.

Pantau secara berkala dan gunakan dashboard untuk mengecek tren.

11. SOP Singkat: Proses Standar untuk Meminimalkan Lead Time

Gunakan SOP 7 langkah ini sebagai template operasional:

  1. Receive Order — verifikasi data & cek stock. Jika ada ketidaksesuaian, hubungi sales dalam 30 menit.

  2. Confirm Pickup Slot — booking armada & tentukan waktu pickup; kirim pre-alert ke customer 24 jam sebelum.

  3. Prepare Goods — lakukan picking & packing; lakukan quality check 1 jam sebelum pickup.

  4. Dispatch & Monitor — kirim truk, aktifkan tracking, update ETA ke penerima.

  5. Manage Exceptions — jika delay > X menit, hubungi receiver & tawarkan re-schedule.

  6. Delivery & POD — ambil tanda terima (signature + foto ePOD), upload ke sistem.

  7. Post-Mortem — jika terjadi delay, catat root cause dan tindakan perbaikan.

12. Template Komunikasi (Email / WhatsApp) — Pre-alert & ETA

Pre-alert (24 jam sebelum)

Subjek: PRE-ALERT Pickup — Order [No] — [Nama Perusahaan] Yth. [Nama Kontak], Barang untuk Order [No] siap untuk pickup: - Lokasi: [Gudang A] - Jumlah: [pcs/pallet], Berat: [kg] - Jadwal pickup: [Tanggal, Jam] - Dokumen: Surat Jalan, Packing List - Catatan: Forklift tersedia / butuh tail-lift Mohon konfirmasi kesiapan. Terima kasih, [Admin Operasi]

ETA Update (real-time)

Subjek: ETA Update — Order [No] — Saat ini di [Lokasi] — ETA [Jam] Dear [Nama], Truck sedang dalam perjalanan, estimasi tiba: [Jam ETA]. Jika ada kendala, kami akan segera mengabari. Salam, [Admin]

13. Studi Kasus Singkat: Perusahaan Retail Mengurangi Lead Time 30%

Situasi: retailer nasional mengalami lead time rata-rata 36 jam untuk pengiriman antar-gudang yang berdampak pada stok rak.
Intervensi:

  • Implementasi appointment system untuk pickup.

  • Perbaikan slotting di gudang: top-selling SKU dipindah dekat loading bay.

  • Peningkatan frekuensi armada untuk rute padat.
    Hasil: lead time turun dari 36 jam menjadi 25 jam (penurunan ~30%), on-time delivery meningkat, dan stockout per store menurun.

14. Risiko jika Lead Time Tidak Di-manage dengan Baik

  • Over-ordering atau under-ordering oleh pelanggan → biaya inventori tidak efisien.

  • Peningkatan biaya expedited shipping ketika terjadi kekurangan stok.

  • Kerusakan reputasi & kehilangan pelanggan.

  • Denda kontraktual bila SLA tidak terpenuhi secara konsisten.

Oleh karena itu investasi sedikit pada perencanaan lead time sering membayar kembali dalam bentuk penghematan biaya.

15. Checklist Praktis untuk Menilai & Mengurangi Lead Time (Printable)

  • Definisikan metrik lead time yang akan diukur (jam/hari).

  • Kumpulkan data historis per route & per customer.

  • Identifikasi top 3 penyebab variasi lead time.

  • Implementasi appointment system untuk gate-in/out.

  • Review layout gudang & slotting untuk SKU prioritas.

  • Pastikan pre-alert 24 jam terkirim ke semua pihak.

  • Monitor KPI mingguan dan lakukan RCA untuk pengecualian.

  • Latih tim warehouse & driver untuk SOP baru.

16. Penutup — Ringkasan & Rekomendasi Aksi

Lead time adalah ukuran kunci untuk operasi darat yang efisien. Untuk mengelolanya:

  1. Pahami komponen (order processing, pickup, loading, transit, unloading).

  2. Hitung secara akurat dan gunakan data historis untuk menentukan buffer realistis.

  3. Fokus pada proses yang memberikan dampak terbesar: slotting gudang, appointment system, dan pre-alert.

  4. Pantau KPI dan lakukan perbaikan kontinu berdasarkan data.

  5. Koordinasikan antar fungsi: sales, operasi, armada, dan customer service.

Siap mengirimkan kargo Anda? Kirimkan melalui Hasta Buana Raya untuk solusi logistik yang andal dan aman!
👉 Hubungi 📱 +62-822-5840-1230 (WhatsApp/Telepon) untuk informasi lebih lanjut dan solusi pengiriman terbaik!